Sudut Pandang yang Berbeda

Hy, i’m back ^^

Seharian ini, aku gak ada buka-buka social media. Tumben amat yak ^^. Soalnya hari ini aku ada ujian komprehensif, belum selesai sih, masih ada 2 dosen lagi yang belom menguji. So, aku hanya fokus. Baru deh, sore ini aku buka blog. Just blog ini ^^ *alasan macam apa ini mud*

Dari yang aku perhatiin seharian ini dikampus, ternyata banyak orang entah itu mahasiswanya atau dosennya yang punya sudut pandang berbeda dalam hal “komunikasi”. Entah sih pihak siapa yang “tidak pengertian”.

Tadi, salah satu dosen penguji, sebut saja bapak Z, beliau mengungkapkan isi hatinya yang berkaitan dengan mahasiswa. Dari yang aku tangkap, bapaknya sih ngomongnya kayak rada kesal gitu, soalnya berenergi banget kata-katanya. 

Ketika mendengar apa yang diceritakan oleh pak Z, jujur aku agak sedikit tersinggung. Karena, aku bukan tipe yang “rajin” banget nemuin dosen. Dan lagi tipe yang “gak mau ribet dan gak mau pergi kalo lokasi si dosen gak pasti dimana” karena aku adalah tipe yang “pokoknya sekalian” mau ngurusin ini atau itu pokoknya sekalian, seharian, dan selesai. Itu adalah alasannya. Karena faktor jarak rumah dan kampus yang sangat jauh (satu jam) jadi ya, dengan alasan hemat bensin sih, kan mahasiswa tingkat akhir sedang butuh-butuhnya asupan duit, ya buat ngurus skripsi sampe tuntas, ya buat wisuda, gitu. 

Pak Z cerita gini yang buat aku rada tersinggung, karena aku merasa, ya walaupun yang beliau maksud bukan aku, tapi karena itu adalah hal yang sering kulakukan juga, maka agak sedikit tersinggung gitu. 

“Saya paling males kalo ada mahasiswa yang nanya ‘pak saya mau bimbingan, bapak ada dimana ya?’ males betul saya bales sms yang seperti itu, yang sms nggak ada keliatan orangnya di depan ruangan saya, tau darimana dia saya ada atau enggak di ruangan ini”

Dalem hati aku ngomong, “pak barangkali takut pas kita dikampus pengen sekalian bimbingan bapaknya gak ada, atau bisa juga karena posisi dirumah males ke kampus kalo gak dapet apa-apa” lah ini yang enggak pengertian sebenernya siapa? 

“Belum lagi, kalo ada mahasiswa yang sms berkali-kali padahal saya lagi mimpin rapat, kan gak memungkinkan untuk saya buka-buka hp, sudah tau jadwal hari senin rapat, masih nanya bapak sibuk kah?”

Dalem hati aku ngomong lagi “pak barangkali takut ngeganggu kalo langsung main datang, lagipula jam-jam rapat pastinya ya mana kami tau” lagi-lagi ini yang enggak pengertian sebenernya siapa? 

“Ada juga mahasiswa itu yang ngantar surat kompre, saya bilang temuin saya senin siang, masih sms jam berapa pak?, pahamilah waktu-waktu siang itu dari jam berapa sampe jam berapa, memangnya saya tidak ada kerjaan, sampai harus balas semua sms anda? ”

Kalo yang ini aku sepakat sih sama bapaknya ๐Ÿ˜€ emang gak ada kerjaan sampe harus balas semua sms kamu ๐Ÿ˜€ ijin copy paste kata-katanya yah pak ๐Ÿ˜€

Jujur aja terkadang aku bingung kenapa mahasiswa dan dosen banyak yang memiliki sudut pandang berbeda, terutama dalam hal komunikasi seperti curhatan pak Z di atas. Entah akupun juga bingung, siapa sih yang sebenernya pantes buat dikasih gelar “enggak pengertian” itu? 

Secara yah, pak Z dan dosen-dosen yang lain kan pernah juga berada di tahapan tingkat akhir, harusnya kan paham sama situasi dan kondisi mahasiswanya. Aku bukan mengkritik pak Z sih *takut kualat* hanya saja aku ingin sosok dosen yang “pengertian”.

Entah juga, apakah kebanyakan dosen seperti itu karena mereka gak mau mahasiswanya seperti yang pernah mereka rasakan ketika masih menjadi mahasiswa atau motif balas dendam karena dulu pernah diperlakukan seperti itu oleh dosennya? Ini adalah pertanyaan yang sebenernya bisa dijawab oleh sang dosen, cuman namanya mahasiswa sebut saja aku ๐Ÿ˜€ beraninya mah cuman ngomong di belakang, komentar di belakang, begitu yang dikomentarin ada didepan mata, biasanya yang keliatan manis-manisnya doang, seolah tidak pernah gitu ngomentarin dosen ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€ heran idih, kenapa banyak orang yang demen ngomentarin karakter orang lain tapi nggak suka dikomentarin. Barangkali ada yang pernah ketemu orang seperti ini. 

Oya, hari ini sebenarnya aku dapat banyak sekali pelajaran hidup dari beberapa dosen penguji, dari cerita-cerita dan juga nasihat mereka. Tapi, aku ceritain ntar ya dipostingan selanjutnya, soalnya kepanjangan. 

Dan lagi, kalian pernah enggak ada dalam moment ujian, kan sebelumnya dikasih kisi-kisi (bayangan soal) lalu dengan mati-matian kalian pelajarin, sampe stress sampe frustasi, sampe begadang. Tapi begitu hari H ujian yang ditanyain justru bukan yang di kisi-kisi! Terkadang sedikit lebih jauh dari kisi-kisi, terkadang sama sekali beda sama yang dikisi-kisi. Kalian pasti tau kan sakitnya dimana?  *nelen kertas kisi-kisi*

Bye. 

Advertisements

26 thoughts on “Sudut Pandang yang Berbeda

  1. โ€˜pak saya mau bimbingan, bapak ada dimana ya?โ€™

    Kalau pendapat saya pribadi itu memang kurang sopan sih. Seharusnya selain pertanyaan “di mana” ada pertanyaan “kapan”. Dosen waktunya gak sebebas mahasiswa tingkat akhir, jadi mahasiswa juga harus maklum.

    Liked by 1 person

  2. banyak sabar ya Shazma , kadang2 orang2 tua seperti pak dosen punya nilai2nya sendiri..
    memang kalau bisa sih komunikasinya harus sama..

    terima kasih ya sudah follow blogku

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s