Singel Happy, Singel Productive

Holaaaa ^^

Assalamu’alaikum, i’m back πŸ˜€

*siapa masih jomblo, angkat tangan. Siapa udah jomblo, hentak kaki. Siapa memilih jomblo, yang pasti bukan jones, kalau kau pilih jomblo, itu prinsip. Hehe. *ciyeeeee pada nyanyi wkwk, yang nyanyi pasti salah satunya jomblo, sama itu mah, eyke juga wkwk*

Ngomongin jomblo? Aih itu mah udah biasa. Biasa curhat karena jomblo dan dicurhatin sama yang udah punya pasangan, sepertinya dunia udah kebalik, masa yang pengalaman nanya sama yang belom berpengalaman? Yakali dapat solusi πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Tempo hari. Ada pertanyaan iseng yang mendarat di telinga aku, “gimana rasanya jadi jomblo?”. Aku jawab, mau dijawab kabar baiknya apa kabar buruknya duluan? Nah, katanya karena bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, ya udah, aku jawab kabar buruknya duluan. Hehe. *bisa aja si nyomud ulur waktu wkwk*

Kabar buruknya jadi jomblo. Gimana rasanya? Sedih. Iri. Nyesek. Sedih, karena kenyataannya belom dapet pasangan. Iri, karena liat mereka yang happy2 bareng pasangannya. Nyesek, karena kadang diremehin. Hiks, hiks. 

Kabar baiknya jadi jomblo. Gimana rasanya? I feel free. Yah, bebas mau ngapain aja, kemana aja, sama siapa aja, enggak ada yang larang, enggak ada yang protes, bahkan kalaupun ada gebetan toh dia juga enggak berhak protes2 πŸ˜€ gebetan kan adalah hal yang belum pasti, hari gini kan udah gak zaman nungguin hal yang belum pasti, cerdaslah sedikit. Bahkan kalo dijanjiin pun, kita harus selidik dan menuntut kepastiannya, terutama wanita. Karena kita adalah manusia yang punya hati dan perasaan, bukan jemuran yang harus digantung melulu. Bener kagak? 

Pokoknya, jadi jomblo itu adalah up to me. Dirimu  mau ngapain kek, bebas. Tapi, jangan mentang-mentang bebas banget sampai disengaja atau tidak disengaja jadinya terjun ke pergaulan bebas. Itu sih namanya salah! 

Kalau aku pribadi. Singel/jomblo, menurut aku enggak perlu sih sedih, nangis sesenggukan di pojokan, apalagi kalau tau gebetannya deket sama orang lain, langsung dah tuh berpikir pengen ke dukun atau mengakhiri hidupmu yang berharga. Kan astagfirullahaladzim πŸ˜€. Coba deh kamu ngaca, dicermin yang besar, yang keliatan dari ujung rambut sampe ujung kaki. Mau ke dukun, atau mengakhiri hidup, emangnya kamu siapanya dia? Bukan siapa-siapa. Toh yang ngegebet kan kamu, bukan dia. Kalau dia yang ngegebet so pasti dia bakalan deketin kamu. Setelah sadar, kamu bukan siapa-siapa bagi dia. Tanya lagi, apa aku berhak marah? Apa aku boleh ke dukun? Apa aku harus mengakhiri hidup? Jawabannya, pasti enggak kan.

Dia manusia. Dia juga punya hati dan perasaan serta keinginan. Keinginan untuk memperjuangkan seseorang. Begitupun dengan kamu. So, udahlah ya, biarin aja. Dia berhak kok untuk memilih. Siapa yang pantas untuk mendampinginya. Dan jangan merasa kesal kalau tidak dipilih, mungkin ada kelebihan dan kekurangan dalam dirimu, yang membuatnya tidak memilihmu.

Jangan galau. Diem, merana. Makan gak nafsu, mandi gak semangat, tidur gak mau. Udah persis kayak mayat idup. Hello. Kamu manusia kali. Butuh asupan. Asupan dari luar dan dari dalam. Siapa yang harus ngasih kamu asupan? Ya bukan siapa-siapa kecuali diri kamu sendiri. Barang siapa yang punya masalah, pasti dia bisa nyelesein masalahnya sendiri. Bukan orang lain, jangan undang orang lain dalam masalahmu kalau gak mau semakin memperumit keadaan. Ingat ya, bahagia itu diri kamu sendiri, bukan orang lain. So, semangat dong. Move on. Jangan sedih kalau jomblo, yang ada entar malah pada ilfil, mana ada orang mau sama yang galau-an, pasti mereka memilih yang ceria lah πŸ˜€.

*baca sampai sini aku yakin kalian bakalan protes, aku enak banget ya tinggal ngomong, tinggal komentar, ngerasain gak pernah, ngejalaninnya susah. Please, jangan suudzon. Aku ngomong gitu, ya karena udah pernah ngerasain kok, jadi jangan timpuk aku pake tomat atau bantal, timpuk aja pake jodoh, eehhh. Baca lagi dong lanjutannya jangan setengah-setengah, entar salah paham hhe*

Aku pribadi. Menjadi jomblo itu adalah sebuah kesempatan. Kesempatan berkarya dan berkarier. Yang nanti, ketika sudah berkeluarga, belum tentu kita bisa sepenuhnya memiliki waktu untuk berkarya dan berkarier. 

Kadang, ada orang yang meringsut aja, bete-lah atau apalah ketika ditanya masalahnya apa, ternyata itu karena dia jomblo. Baginya jomblo adalah sebuah masalah. What? Salah kali tuh. 

Tapi ada nih jomblo yang cerdas. Jomblo yang produktif, untuk membuat dirinya menjadi lebih berkualitas. Sibuk membanggakan diri dan orang terdekat dengan segudang karya dan prestasi. 

Tahun lalu, sempat kan nge-hits banget hastag #Indonesiatanpapacaran, sampe banyak akun2 yang bikin nama Indonesia tanpa pacaran. Aku sendiri adalah salah satu orang yang mendukung aksi ini. Tapi, bukan berarti aku men-judge orang pacaran. Enggak. Mau pacaran atau nge-jomblo ya terserah yang punya diri. Itu pilihan kok, bukan hanya takdir atau paksaan. 

Kadang, lagi jalan atau nongkrong kemana aja, sering liat orang-orang pacaran, mulai dari anak sekolah sampe yang udah kerja, pegangan tanganlah, pelukanlah, apalah terserah mereka, aku gamau ikut campur. Kadang dalam hati, sambil geleng kepala aku suka ngakak sendiri. Dengan seribu pertanyaan yang sama.  “Apasih alasan mereka pacaran sebelum nikah?”. Padahal kan, sense of love pengangan tangan sebelum dan sesudah nikah pasti beda rasanya. Coba deh, kalo ada orang yang pacaran, sebelum nikah sering kan pegangan tangan, kemudian mereka nikah, kan setelah ijab kabul pasti lah ada adegan salim-saliman. Ya pasti biasa aja kan? Coba bandingin sama yang nggak pernah pacaran, lalu dia nikah, pasti pas adegan salim-saliman beda banget rasanya, lucu, malu-malu kucing πŸ˜€ bingung siapa yang mau mulai duluan, lebih dramatisir dan yeahhh, disitulah seharusnya jatuh Cinta yang sebenernya. Udah halal, ketika saliman, didoain malaikat, digugurin dosanya πŸ˜€. Ya wallahu’alam sih πŸ˜€

Kadang aku tanya ke mereka-mereka yang pacaran, rata2 jawabannya buat penyemangat. Harus ya, penyemangat dengan punya pacar? Lah orangtua digimanain? Ada banyak kok sebenernya hal yang bisa bikin kamu semangat, enggak harus cari pacar. Dari mereka-mereka yang pacaran pun aku sering dapat keluhan ya katanya enggak boleh kemana-mana, enggak bebaslah, dicurigain mululah, intinya dikekang gitu. Nah loh, siapa emang yang suruh cari pacar? Kan situ yang bikin gara-gara ya situ musti nyeleseinlah πŸ˜€ masa ngeluh ke eyke, emang eyke pegadaian πŸ˜€ 

Maka dari itu, aku sebagai seorang yang mempertahankan prinsip singel πŸ˜€ mewakili mereka2 yang juga memiliki prinsip singel, aku berpesan, wahai anak muda yang berniat menjalin hubungan dalam bentuk pacaran, sebaiknya sebelum melanjutkan hendaklah dipikir dahulu, sebelum anda akhirnya ngeluh ke orang lain karena pacar anda, alangkah lebih baik, kalau anda suka, dihalalin aja bang, lebih bebas πŸ˜€

Nah sok atuh, kalau kamu punya jiwa yang bebas, udah deh nge-jomblo aja, happy loh πŸ˜€ bisa produktif lagi. 

Produktif. Apasih itu? Produktif itu adalah ketika kita bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ada banyak cara menjadi produktif. Kamu bisa belajar untuk membuat dirimu lebih cerdas dan pintar. Kamu bisa membuat usaha untuk menghasilkan uang bahkan lebih hebat bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyaknya pengangguran di dunia yang kejam ini. Kamu bisa meluangkan waktu untuk keluarga kamu, terutama orangtua, yang gak dipungkiri kalau setiap orangtua pasti ingin anaknya sukses. 

Menulis. Menulis juga bisa jadi salah satu jalan produktif loh. Yang akhirnya bisa jadi buku. Bermanfaat dan dibaca oleh orang lain. Lalu orang lain berubah menjadi lebih baik. Dapet pahala loh πŸ˜€ 

So, kalau kamu jomblo jangan sedih. Happy aja lagi. Bersyukur karena masa jomblomu kamu bisa berproses menjadi orang yang hebat, yang belum tentu bisa kamu lakuin ketika kamu sibuk berpacaran, yang pasti hasilnya bisa kamu nikmati ketika berkeluarga nanti. 

Menurut kalian lebih baik jomblo tapi happy atau pacaran tapi gak bebas? Hayoloh jangan pilih atau yah πŸ˜€ mungkin kapan2 kalau inget bisa kali bikin postingan tentang jomblo vs pacaran, lagi ngumpulin pendapat orang2 yang jomblo dan pacaran sih ini, semoga mereka cepat memuaskan hati eyke, biar bisa cepat menarik kesimpulan dan membagikannya kepada kalian πŸ˜€

Kalau kalian pacaran, pacaranlah yang sehat, enggak usah ada adegan sentuhan fisik, bisa? Karena kadang omongan orang lain itu kejam sekali, bisa jadi fitnah. Tapi, kalau kalian putuskan menikah akan lebih baik. 

Kalau kalian jomblo, jadilah jomblo yang happy, berkualitas, produktif, bermanfaat, dan menginspirasi, karena jomblo itu pilihan. Jomblo itu prinsip. Bukan hanya sekedar takdir apalagi paksaan. Bisa?

Advertisements

9 thoughts on “Singel Happy, Singel Productive

  1. Halo! Haloo! Ini sekedar pandanganku aja ya. Tentang produktif, aku kenal sama seseorang yang masih menjomblo di usianya yang sudah nggak lagi muda karena dia (terlalu) produktif, sampai-sampai nggak punya waktu untuk pasangan. πŸ˜€

    Intinya sih yang “terlalu” itu selalu nggak baik dan apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain (dan berlaku pula sebaliknya). πŸ˜€

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s