Ketika Kejujuran Tak Lagi Dihargai

Holla ^^

Assalamualaikum 🙂

di kesempatan kali ini, neng pengen ‘ngeluarin’ uneg-uneg tentang kejujuran, yang sebenarnya udah pengen neng bahas dari awal blog ini terlahir, tapi namanya manusia 😀 kalau banyak yang dipikirin pasti aja ada yang dilupain :D, sekarang baru ingat lagi, karena neng masih berkeyakinan tema ini sangat penting untuk dibahas, tapi jangan sampai memancing kerusuhan 😀

sebenernya, neng udah lama banget tersadar alasan kenapa anak manusia dicap ‘pembohong’. yaitu karena, kejujuran tak lagi dihargai.

dalam kasus ini, sebenernya kita tidak bisa hanya men-judge si tersangka ‘pembohong’ saja, tapi instropeksi diri, barangkali kebohongan itu terjadi karena rasa takut. takut mengutarakan yang sejujurnya, takut ketika tidak dihargai. begitulah manusia, hidup di bawah tekanan rasa takut. neng pun tidak berbeda.

neng pun, juga pernah menjadi tersangka ‘ketidakjujuran’ karena alasan kejujuran tidak dihargai, karena neng takut dimarahi dan dibenci. kalau dipikir-pikir hidup neng miris ya, banyak yang ditakutin, cuma karena alasan tidak ingin menjadi manusia yang mengecewakan.

tentang kasus ini, sering terkait dengan lembaga pendidikan dan juga lembaga pekerjaan, bahkan lingkungan keluarga dan juga masyarakat. menurut neng, yang paling miris adalah di lembaga pendidikan. kenapa banyak siswa yang mencontek pada saat ujian? apakah karena mereka bodoh? tidak. bahkan jika ditelusuri, si pintar pun melakukan hal ini. semua demi apa? nilai adalah jawabannya. nilai adalah ukuran kepintaran. padahal belum tentu. nilai adalah ukuran kemampuan, yang pas-pasan nilainya kadang lebih banyak yang kemampuannya melebihi si nilai tertinggi. begitulah budaya di dunia pendidikan, tidak dilihat jika tidak mendapat nilai yang tinggi, tidak diacuhkan, ketika nilaimu rendah. tidak dikenal guru dan dosen, karena anggapan mereka kamu bodoh. padahal tidak ada yang namanya bodoh di dunia ini. yang ada adalah pemalas. tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang pemalas. begitulah yang sering diucapkan guru dan dosen neng, tapi pada kenyataannya tetap saja tidak mengubah sistemnya, nilai tetaplah yang menjadi ukuran. nilai adalah segalanya.

neng pernah ada dalam situasi labil. ketika MTS/SMP, neng adalah siswa dan anak yang jujur. bukan memuji diri sendiri, tapi neng memang takut kalau bohong. neng takut dimarahin. ketika MA/SMA neng pun awalnya masih jadi siswa dan anak yang jujur, terutama dalam belajar dan ujian. naik ke kelas 2 SMA, ada satuhal yang membuat neng berubah menjadi tersangka ‘curang’. neng sangat suka belajar dan waktu ujian, neng suka menguji diri sendiri. enggak aneh kan? karena neng mencari kualitas diri. malam ujian, neng belajar dengan cara neng sendiri. keesokan harinya ujian, dikelas neng. si pintar itu selalu saja sombong dan pelit. dan yang paling gak neng sangka adalah dia melakukan kecurangan dengan cara mencontek. ya, dia buat catatan kecil. hal ini seketika membuat neng syok, kesal, marah, dan patah hati. saking patah hatinya, neng buang buku paket ke tong sampah depan kelas. hingga akhirnya neng pun terdorong untuk melakukan hal yang sama, semua karena apa? lagi-lagi nilai. semenjak itu neng sadar, kejujuran tak lagi dihargai. semenjak itu neng jadi suka mencontek. neng kehilangan kualitas diri. neng kehilangan prinsip jujur yang sudah neng tanam bertahun-tahun, karena satu hal, si pintar melakukan kecurangan demi nilai. lagi-lagi nilai yang jadi provokator.

ketika masuk kuliah, awal-awal neng masih melakukan kecurangan itu. tapi suatu waktu neng dapat karma, neng dapat nilai terendah padahal neng udah curang. neng kembali sakit hati, bukan karena dosen yang kiler atau pelajaran yang gak neng pahami. tapi neng sakit hati karena neng tidak jujur. semester berikutnya, ketika ujian akhir semester, neng pernah ada di satu waktu telat datang ujian. walhasil, sama si pengawas yang neng julukin ‘singa’ disuruh duduk paling depan, karena neng telat 30 menit. si singa itu, kerjaannya mondar mandir. neng bahkan gak punya kesempatan untuk lirik sana sini, karena ada kejadian temen neng lirik sana-sini, kertas ujiannya di sobek, dan disuruh keluar. neng gak mau, akhirnya dengan bismillah neng ngerjainnya jujur. pertama kalinya neng kembali menjadi hamba yang jujur. neng gak belajar, neng hanya mengandalkan kekuatan ingatan. ingat apa yang pernah dijelaskan dosen. hasil yang neng dapatkan? pertama kalinya, neng dapat nilai tertinggi karena kejujuran. neng bangga sama diri sendiri. hingga seterusnya neng jujur selalu, alhamdulillah usaha tidak pernah mengkhianati hasil 🙂

ketika neng PPL di sekolah. neng dikenal murid karena sering ngebahas tentang kejujuran. neng gak pernah bosan nyeritain pengalaman neng tentang kecurangan disekolah. Pernah suatu ketika, neng kesal gara-gara ada yang mencontek, gak sengaja neng ngeluarin kata “kalau kamu belajar curang dari sekarang, gedenya mau jadi apa? Koruptor? Asal kalian tau, kenapa ada yang namanya koruptor? Itu berawal dari bangku sekolah, sejak Dini mereka belajar untuk curang”. Kesal tapi ya sadar kalau murid disitu gak bisa dikasih nasihat begitu ada aja yang nyeletuk “mau gimana? Abis nilai selalu jadi ukurannya”. Ya, nilai yang selalu menjadi ukurannya, ukuran kemampuan seseorang tanpa melihat sikap jujur atau tidaknya. 

Dan kenapa harus takut untuk jujur? Padahal kejujuran adalah salah satu kualitas seseorang. 

Jadi, sekarang kan kita sadar dunia memang semakin kejam, kalau jujur kita akan tenggelam. Tapi, apakah salah menjadi 1 orang yang jujur diantara 1000 orang tidak jujur? Kenapa takut? Sekarang kejujuran adalah hal yang langka, seharusnya bangga dong karena sesuatu yang langka, akan selalu dicari-cari. 

Jujur itu memang berat. Tapi kalau udah niat, dan tanamkan prinsip jujur dalam diri, apapun keadaannya, insyaallah bakal selamat. Percayalah, menjadi orang jujur, entah dalam perkataan ataupun perbuatan rasanya lebih membahagiakan. Kenapa harus takut dimarahi? Jika kejujuran akan membawa kita menuju kebaikan, dan kebaikan membawa kita menuju surga? 

Berani jujur itu baik, kalau kamu takut jujur, sampai kapanpun kamu tidak akan menjadi orang yang jujur. Bukankah kamu ingin menjadi orang yang sangat dipercayai oleh orang lain? Kuncinya ya harus jujur, Insyaallah tidak akan mengecewakan hati siapapun. Tapi ingat, imbangi selalu dengan pemikiran yang logis dan jangan bertindak gegabah. 

Salah satu cara membahagiakan diri sendiri adalah dengan melakukan kebaikan, dan kebaikan yang paling berharga adalah sebuah kejujuran, karena jujur itu sangat mahal harganya. Yuk sama-sama belajar lebih jadi orang jujur, jangan takut kejujuran tidak dihargai, itu hanya dimata manusia. Sementara di Mata Sang Pencipta, itu adalah salah satu kebaikan yang akan membawa ke Surga. Siapa sih yang lebih berkuasa di dunia ini?  Sang Pencipta bukan? Percaya sama janji-janjinya aja 😀

Sekian, mungkin kalian ada yang mau ngeluarin uneg-uneg perihal kejujuran?  Neng siap tampung kok hehe,, byeee ^^

Advertisements

10 thoughts on “Ketika Kejujuran Tak Lagi Dihargai

  1. Tentang bahagia, saya teringat dhawuhnya Ki Ageng Suryo Mentaram (Sang Matahari Jawa) dalam filsafat Jawa, “Manusia tidak akan sampai pada kebahagiaan jika ia masih memiliki keinginan”.
    Tentang sebuah hubungan sosial, manusia, barangkali juga termasuk saya, lebih banyak menggunakan imbuhan ‘di’ dan “i” ketimbang ‘me” dan ï. Seharusnya lebih mengutamakan, menyayangi daripada berharap terus disayangi. Mengerti daripada dimengerti. Memberi daripada diberi. seterusnya. Ya, namanya juga manusia.

    Liked by 1 person

  2. Jujur adalah sebuah nilai yang tak ternilai, tidak bisa dibayar, terutama jujur pada diri sendiri. Karena jujur kepada orang lain itu lebih mudah daripada jujur kpd diri sendiri.
    Mengakui suatu kebohongan ke khalayak umum itu lebih mudah dibanding mengaku kpd diri sendiri. Karena saat kita jujur kpd orang lain, benarkah bahwa kita juga menyadari dan mengakui sepenuhnya kepada diri ini tentang kejujuran tersebut.
    Kok malah muter gini bahasannya 😂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s