Menikah

Assalamualaikum, hallo semuanya. ^^ apa kabar? Lama tak bersua hehe.

Upps, siapa yang begitu ngeliat judul berpikir kalo selama 3 bulan ini aku menghilang karena judul di atas? Hayoo ngaku hehe.

Bukan. Aku menulis judul itu, bukan berarti aku melakukan sebuah pernikahan tapi, yang namanya blog sebagai tempat untuk aku mencurahkan segala perasaan dan pikiran, so… Kali ini lagi-lagi karena faktor keseringan ditanya “kapan nikah?”, faktor temen sudah banyak yang nikah dan punya anak, juga karena faktor keseringan ngadepin penganten entah yang seumuran bahkan lebih muda hehe. Maka dari itu aku akan menuangkan segala uneg-uneg dan pemikiranku tentang menikah, sok atuh kalo kalian belom bosan bisa langsung di lanjut hehe ^^.

————————————————————-

MENIKAH.

siapa sih disini yang gak kepengen nikah? Aku yakin pasti semuanya pengen. Siapa sih disini yang gak kepengen nikah dari usia muda? Pasti semuanya pengen, hanya saja waktu jodohnya datang yang gak bisa ditebak, bisa jadi tepat waktu, bisa juga telat, hehe.

Manusiawi sih ya, orang jadi ngebet banget pengen nikah karena macem-macem, ada yang bosan ditanya kapan nikah melulu, ada yang karena orangtuanya udah ngode-ngode pengen cucu, ada juga yang ngerasa iri sama temennya yang pada nikah muda dan punya anak, macem-macem sih.

Seperti halnya aku pun juga pengennya nikah muda. Faktornya ya karena temen rata-rata udah nikah bahkan punya anak, terus juga kadang ngadepin clien henna itu pengantennya usianya di bawah aku. Kan aku yg baru 22 tahun jadi merasa tua banget udah hihi. Makanya deh, aku selalu berpikiran untuk nikah muda juga, tapi ya itu, jodohnya belum datang wkwk.

Walaupun aku berpikir untuk menikah di usia yang sangat muda. Tapi, tetep aja harus berpikir jauh ke depan. Karena menikah itu bukan kehidupan sehari dua hari bubar, bukan tentang enaknya, romantisnya, bahagianya, mewahnya ketika hari yang sakral itu tiba, tapi menurut aku adalah bagaimana mengatur hidup ketika setelah menikah. Yang tadinya sibuk sendiri, cuman mikirin kebutuhan diri sendiri, harus menyesuaikan menjadi kebutuhan suami atau istri dan anak-anak.

Dalam kepalaku, ketika mendengar atau berpikir tentang sebuah pernikahan, yang harus diperhatikan bener-bener adalah kesiapan. Entah itu kesiapan lahir batin, kesiapan ilmu dalam berumah tangga dan mengurus anak misalnya, pun kesiapan materi, kesiapan mental ketika menghadapi masalah, bagaimana ketika terjadi perselisihan cara menyelesaikannya tanpa ada campur tangan orang tua, mertua, bahkan anggota keluarga lainnya. Menurut aku hal-hal seperti ini sudah harus dipikirkan matang sejak ada komitmen untuk menikah.

Intinya, menikah itu gak mudah. Banyak yang harus dipersiapkan. Yang paling utama sih pasti kesiapan mental tadi, karena kita gak pernah tau ombak seperti apa yang akan menyerang bahkan sejak awal pernikahan.