Makna Bahagia, sesederhana itu

Assalamualaikum hay hay semuanyaaa ^^ *hebohhh*

Pada pagi hari yang cerah ini, alhamdulillah tumben gak turun ujan hihi, sambil tiarapan syantik di kasur emak wkwk sambil asyik scroll up-down akun-akun instagram, mencari topik dan perbincangan baru yang lagi viral, lalu beralih nonton video-video motivasi di youtube, tiba-tiba neng keinget sama kata ‘bahagia’, neng lupa deh udah pernah nulis tentang bahagia apa belom, soalnya males buka-buka udah panjang daftar postingan yang pernah neng buat, hihi. Jangan diikutin yah wkwk. *kemudian kabur takut kena lempar tomat*

Kalo ngomongin bahagia, neng rasa ini gak ada abisnya sih. Apalagi kadar ukuran dan penyebab bahagia setiap orang berbeda-beda. Punya cara dan jalan masing-masing untuk bahagia. Ada yang dengan hal sederhana udah bahagia. Ada juga yang dengan hal mewah baru bisa dikatakan bahagia.

Terkadang pun apa yang kita jalanin pasti beda dengan penilaian orang-orang yang hanya melihat dari kejauhan. Orang menilai kita bahagia, nyatanya bukan itu yang kita rasakan. Mungkin dari luar kita terlihat bahagia, tapi di dalam belum tentu. Karena yang tau bagaimana dan seperti apa bahagia untuk diri kita adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sekali lagi, bahagia adalah diri kita yang merasakan bukan orang lain yang menilai.

Ada juga apa yang membuat kita bahagia ternyata bagi orang lain hal itu gak membahagiakan sama sekali. Begitupun sebaliknya. Makanya jangan heran deh, kalo banyak manusia di zaman serba canggih dan modern ini yang masih suka iri bahkan kesal sama kebahagiaan yang dimiliki orang lain. Syukur kalo keirian dan kekesalan mereka bisa memotivasi diri mereka sendiri. Untung kalo keirian (?) dan kekesalan mereka gak sampe mendorong mereka untuk melakukan tindak kriminal. Coba kalo sampe ngelakuin tindak kriminal betapa berabenya tuh bakal jadi kasus panjang karena permasalahan sepele.

“Eh liat deh si A, kerjaan Bagus, duitnya banyak, pasti bahagia banget ya hidupnya”

Segera ditepis. Belom tentu seperti itu yang dirasakan. Karena penilaian dengan apa yang dilihat dan dirasakan itu sangat berbeda sekali.

Belom lagi, di zaman serba canggih dan modern ini. Media sosial bertebaran, mulai dari facebook, instagram, dkk. Bahagia dikit, cekrek, edit, aplod. Seneng dikit, cekrek, edit, aplod. Sedih dikit, cekrek, edit, aplod. Sekalian aja lagi ditoilet juga di aplod. Pamer. Ya, pamer lagi bahagia. Yakin beneran bahagia? Bisa jadi cuma pura-pura bahagia mau nunjukin ke semua orang di dunia kalo hidup dia bahagia banget. Orang sih, sekali dua kali ngelike mungkin ngerasa masih wajar, tapi kalo udah berkali-kali, orang-orang pasti bakal bosen dan cuek, bahkan sampai ada yang komentar pedes. Siapa yang salah disini? Kembalikan pertanyaannya, siapa yang mulai duluan? Memang aplod apapun di medsos itu hak kita, tapi kita harus ingat bahwa medsos bukan hanya milik kita sendiri. Ada orang lain yang juga melihat apa yang kita aplod.

Boleh sih aplod apa yang bikin kita seneng dan bahagia, asal jangan terlalu sering. Gak perlu aplod hal yang bikin sedihnya atau sakitnya. Sedih banget kalo kita aplod lagi sedih tapi banyak yang ngelike, artinya banyak orang yang suka ngeliat kita menderita. See? Pada gak mau kan seperti itu? So, aplod sewajarnya aja mulai sekarang. Orang lain boleh tau kebahagiaan kita, tapi jangan sampai tau kesedihan kita. Tapi bukan berarti harus pura-pura bahagia ya, itu mah beda. Hihi.

Kalo neng pribadi, bahagia itu gak harus mewah. Gak harus jalan ke mall, gak harus belanja barang branded dan mahal, kecuaii kalo ditraktir tanpa babibu langsung pilih yang paling mahal. Wkwk. Gak mesti naik mobil mewah, gak mesti makan pizza dan humberger. Dan gak mesti banyak duit juga.

Bahagia, sesederhana itu.

Jalan kaki sambil nikmatin alam semesta, menghirup udara segar sambil merhatiin kendaraan yang lalu lalang? Bahagia.

Berbagi pengalaman melalui cerita baik berupa curhatan langsung, nyanyi, bikin video pendek, atau tulisan sekalipun? Bahagia.

Bosan makan ikan atau ayam atau daging, males makan telur yang ada ikan asin, tapi dimasak asam manis? Bahagia.

Nolongin orang-orang di jalan, bantuin orang tua dirumah, melakukan hal yang disuka tanpa diperintah siapapun? Bahagia.

Bisa tidur dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tanpa gangguan jenis apapun? Bahagia.

Apalagi kalo tiba-tiba si doi datang kerumah bawa orang tua dan keluarga besarnya, beuh bahagia pake banget wkwk. *uppsss*

Bahagia, sesederhana itu. Itulah yang neng rasain.

Bukan kemewahan atau kekayaan yang menjamin kita bahagia. Kemewahan dan kekayaan hanya jaminan hidup kita berkecukupan, belum tentu bahagia. Karena fakta yang paling nyata adalah, bahagia itu sederhana, sesederhana sebuah senyuman manis dibibir, dan kelegaan yang ada di dalam hati.

Bagiku bahagia itu adalah, berbagi cerita. Berbagi kasih dan sayang, Berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama orang sekitar. Berbagi canda dan tawa, berbagi rasa dan pengalaman. Dan masih banyak lagi. Alhamdulillah kalau bisa berbagi rezeki biar rezeki kita tambah melimpah dan hajat lekas terkabul. Apalagi jika melihat orang-orang yang kita sayang dan kita cintai tersenyum bahagia, itulah makna bahagia yang sebenernya.

Itu pendapat saya, bagaimana dengan anda?

Selamat menjalankan segala aktivitasnya pada hari ini ^^

Suka atau Tidak, yang penting Amanah

Assalamualaikum semuanya ^^ apa kabar?? Lama kita tidak bersua hehe.

Hari ini, aku cuman mau nyampein sedikit opini aja sih, hihi. Seperti judulnya, suka atau tidak. Kalo suka monggo di lanjut baca, kalo enggak dilewatin ajah daripada kesel sendiri bacanya wkwk aku kan gak mau tanggung jawab wkwk.

Oh iya, mengenai judul aku asal aja sih ngasihnya soalnya pas kebeneran lagi dengerin lagunya wali band yang judulnya suka atau tidak, pas juga kemarin abis pemilu gubernur dan wakil gubernur daerah kami, Kalimantan Timur. So, karena aku ngerasa timingnya pas, ya udin aku tambahin aja biar lebih ngena hihi. Oh iya, kalo di daerah kalian gimana? Ada gak yang barengan pemilu gubernur dan wakil gubernur juga? Bisa deh disebutin daerah nya masing-masing di kolom komentar, tapi jangan rebutan okehhhh?? ^^

Kalo udah ngomongin pemimpin, semua manusia yang ada di dunia ini pasti kepengen pake banget punya pemimpin yang baik terutama peka sama keadaan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Sebenernya semua masyarakat pun, berhak mencalonkan diri menjadi calon pemimpin, tapi balik lagi kepada kemampuan diri, karena yang diurus itu bukan sekedar keluarganya, tapi juga banyak orang yang menaruh harapan tinggi kepada siapapun pemimpinnya, akupun begitu. Bagaimana dengan kalian?

Kampanye visi misi. Ya, mau jadi pemimpin entah dilingkungan terkecil sekalipun, visi misi pasti diperlukan, karena visi misi adalah janji maka kita berhak untuk menagihnya. Hanya saja, sangat disayangkan, terkadang mereka (baca: calon pemimpin) terlalu berambisi untuk membuat banyak sekali misi. Aku sempet bertanya-tanya, ‘banyak misi yang dibuat, apa mereka sanggup melakukan semuanya selama masa kepemimpinan mereka? Apa mereka bisa memenuhi satu persatu janji kepada masyarakatnya? Bagaimana jika sakit? Bagaimana jika meninggal? Bagaimana jika semua masyarakatnya demo? Apa mereka pikir dengan banyaknya misi masyarakat akan dengan mudahnya percaya?’ Kira-kira sebelum membuat misi yang sangat banyak, apa mereka berpikir tentang gimana melaksanakannya gak ya? Bagaimana menurut pendapat kalian? Apakah kita sependapat?

Aneka macam sumbangan. Pun, ketika masih calon, semua sumbangan dalam bentuk yang beraneka ragam dikirim dan dibagi-bagikan kepada masyarakat, lalu tim sukses mereka meminta untuk memenangkan sang pemberi sumbangan. See? Apakah benar ini bukan sogokan secara halus? Meski otakku bilang enggak, entah hati kecilku selalu bilang iya. Akupun juga ragu terkadang, apa boleh diterima sumbangannya sedangkan mereka menyampaikan maksud dan tujuannya? Sekali lagi, kepalaku mengangguk, tapi hati kecilku tidak.

Dari dulu, aku adalah orang yang ketika melakukan sebuah pilihan banyak pertimbangan-pertimbangan yang ada dalam pikiranku, makanya aku bukan tipe orang yang cepat mengambil keputusan. Contohnya dalam memilih pemimpin, banyak yang aku pertimbangkan, seperti berikut.

Pengalaman. Bagiku, wajah tampan atau cantik bukan segalanya. Karena ketika kita berhasil dalam hal apapun, belum pernah sekalipun aku denger orang memuji kecantikan atau ketampanan, semua pasti memuji kemampuan, dan kemampuan itu pasti didapat dari banyaknya pengalaman yang sudah dilalui sebelumnya. Bagaimana dengan kalian?

Kekayaan. Entah, dari dulu aku suka sama pemimpin yang kaya dari asalnya. Karena dalam pikiran aku kalo udah kaya kecil kemungkinan korupsi kan? Apalagi kalo kaya 7 turunan. Tapi kalo biasa aja, ada kemungkinan besar bakal tergiur sama korupsi apalagi zaman sekarang semua serba mahal, uang pun jadi Tuhan. Bagaimana dengan kalian? Don’t judge me, semua bebas berpendapat ^^

Kebapakan atau keibuan. Biasanya aku liat hal ini dari wajahnya yang teduh dan enak dipandang, gak mesti muda atau tua. Dan orang yang banyak senyum dan juga tenang menurut aku cocok buat jadi pemimpin. Karena apa? Terkadang banyak dari kita yang segan sama sosok pemimpin yang tenang. Nyaman dengan pemimpin yang berwajah teduh dan berhati baik. Karena terkadang gak semua yang wajahnya teduh itu baik, jadi kita harus lihat latar belakang keluarganya juga. Bagaimana menurut kalian?

Sosok pendamping hidupnya. Aku kalo kepoin sosok calon pemimpin, aku pasti kepoin juga siapa yang jadi pendamping hidupnya. Apalagi kalau calonnya para bapak-bapak, udah pasti kita harus bener-bener tau siapa istrinya jangan sampai karena cinta, istrinya bilang korupsi ajalah akhirnya diikuti, gak menutup kemungkinan toh dengan mahalnya segala macam harga pada saat ini? Bukan suudzon, tapi meneliti. Karena aku pengen sosok pemimpin yang bener-bener baik, jujur dan layak. Bagaimana dengan kalian?

Kenal baik. Nah, ini penting nih. Karena gimana kita tau kalo dia beneran calon pemimpin ideal kalo kita sendiri gak kenal baik? Kan gak mungkin kita datang ke kantor mereka ngajak kenalan. Kalo aku sih salah satu cara biasanya aku rajin googling tentang sosok pemimpin2 yang ada di Indonesia, tentang keluarganya, tentang riwayat pimpinanannya, tentang riwayat kasusnya juga. Karena kadang meskipun udah pernah kena kasus gak menutup kemungkinan dia gak ngulangin, karena yang sebelumnya apa yang didapat dengan cara enggak halal udah tumbuh dalam diri kita so, dia yang manggilin untuk kembali mengulang kasus yang sama. Makanya penting kenalin dulu calonnya, jangan asal pilih yang gak kenal. Bagaimana dengan kalian?

Terlepas dari itu semua, kembali kepada suka atau tidak sih sebenarnya. Aku yakin, pasti banyak dari kalian yang memilih bukan dari hati, tapi karena gak enak sama si pemberi sumbangan hihi. Ngaku deh. Kalo aku, lebih suka milih dari hati, terlepas ada sumbangan atau enggak yang pasti kalo dari hati milihnya, menang atau enggaknya pilihan kita, pasti kita gak bakal emosi apalagi sampai nekat bikin demo diperempatan jalan.

Yang penting bukan suka atau enggaknya, tapi menjalankan amanah masyarakatnya. Gak mesti banyak misi kalo gak sanggup jalanin semuanya, entar kepercayaan masyarakat hilang jadilah punya gelar si pemberi janji manis atau pemberi harapan palsu. Lebih baik sedikit misi yang penting selesai sampai akhir masa kepemimpinannya.

Siapapun yang menang nanti, aku harap mereka menunaikan semua visi misi nya, memenuhi semua janjinya, menyelesaikan tugas dengan baik hingga akhir masa kepemimpinannya, tidak tergiur korupsi dan hak rakyat untuk kepentingan pribadi, dan jangan meninggalkan banyak masalah untuk calon pemimpin yang selanjutnya. Amanahlah, karena kepercayaan itu mahal harganya, ia tidak bisa dibeli dengan uang, sebanyak apapun kita memilikinya.

Bagaimana menurut kalian?