Nasib Cinta si ‘Pengagum Rahasia’

Assalamu’alaikum ^^

Hola ^^

Spesial Weekend hari ini mau ngobrolin tentang cinta.

Ah, Cinta lagi. Dapatkah ia disebut cinta, jika hanya sepihak yang merasakannya? Tentu saja. Karena cinta terutama mencintai adalah hak semua orang. Soal dibales atau enggak, terserah yang punya hati. Karena sebagai manusia yang selalu ingin berada dalam naungan cinta, selain berharap kita juga harus berusaha untuk mendapatkannya dan menjadikannya milik kita.

Cinta itu ending warnanya macem-macem. Ada yang Nikah. Ada yang sampe tahap tunangan terus bubar. Ada juga yang udah bubar saat masih pacaran. Ada yang penuh canda tawa. Ada juga yang penuh duka lara. Ada yang jujur apa adanya. Ada juga yang penuh drama. Ada yang diwarnai keromantisan dan kesetiaan. Tapi nggak sedikit juga yang diwarnai perselingkuhan. Ada yang berhasil jadi pasangan. Ada yang bertepuk sebelah tangan. Dan ada juga yang hanya sebatas pengagum rahasia saja.

Jadi pengagum rahasia itu pekerjaan yang nggak gampang, segampang ngebalikin telapak tangan doang. Enggak. Ini adalah pekerjaan Dimana kamu harus melakukan misi-misi tertentu tanpa harus ketahuan sama orang yang kamu suka. Pekerjaan ini pun juga harus berlandaskan keikhlasan. Ya… Ikhlas memendam semua jenis perasaan yang ada untuknya. Ikhlas, saat dia memilihmu hanya menjadi teman saja, bukan lebih. Biar begini, pun terkadang harus ngerasain yang namanya nyesek setiap kali dia tertawa. kenapa nyesek? Ya… karena tawa darinya bukan berasal maupun teruntuk dirimu. Beginilah nasib sang pemendam rasa. Nasib cinta bertepuk sebelah tangan. Nasib cinta si pengagum rahasia.

Sulit? tentu saja. Pekerjaan beresiko yang mungkin jika ketahuan akan menyebabkan pertengkaran, udah itu gak dibayar. Rugi? jelas. Rugi waktu. Sama halnya seperti orang yang menjalani cinta bertepuk sebelah tangan. Sama-sama rugi waktu. Bedanya kalo pengagum rahasia nggak tau kalo kamu suka sama dia. Tapi kalo cinta bertepuk sebelah tangan dia tau kalo kamu suka sama dia. Hanya saja dia nggak ada niat buat bales perasaan kamu. Sakit? sudah tentu. Terus kenapa masih suka sama dia? udah tau cintamu bertepuk sebelah tangan. Disinilah, kadang kita berpikir kalau orang lain, nggak ngerti apa yang kita rasain.

Cinta bertepuk sebelah tangan itu awalnya dari Friendzone dulu, lalu pelan-pelan berubah jadi pengagum rahasia, sampai akhirnya kamu nggak tahan buat nggak nyatain perasaan, Syukur kalau dia suka kamu juga dan cintamu diterima. Kalau dia enggak suka kamu? kamu hanya cinta sendirian, apa bukan bertepuk sebelah tangan?. Biasanya, kebanyakan hal ini terjadi sama yang punya hubungan ‘sahabatan’ antara cewek dan cowok. Makanya, neng sih nggak pernah percaya sama persahabatan yang beda jenis gitu. Nggak mungkin salah satu pihaknya nggak pernah suka sama pihak lainnya. Pastilah. Kamu aja yang nggak tau. Kalo udah di zona lama jadi temen, apalagi sahabatan gitu, hati kan suka bingung. Ada rasa ingin memiliki, tapi takut pertemanan atau persahabatan yang udah dibentuk sejak lama hancur seketika. Kalo salah satu pihak menyatakan perasaan duluan, pasti pihak satunya nganggap bercanda padahal kamu serius. ” Hari gini becanda aja lu, gue sampe sekarang nih ya masih nggak nganggap lu cewe, kita itu udah kayak setara “.

JLEEBBBB.

Sakit ya saat dengar kata-kata itu. Gimana dia mau suka, kalo kita aja nggak dianggep cewe atau cowo dimata dia, dianggepnya sama kayak dia. Ohh why? Padahal kamu udah mati-matian ngumpulin keberanian buat nyatain perasaan ke dia. Lambat laun, kamu pun berubah menjadi orang yang penuh ‘pura-pura’. Pura-pura tersenyum depan dia, padahal hati lagi perih-perihnya. Pura-pura senyum bahagia di depan dia, padahal hati lagi patah-patahnya. Pura-pura seneng saat dia sama pasangannya romantis di depanmu, padahal hati lagi tersayat-tersayatnya. Lalu keluarlah kata-kata galau dari pikiranmu.

Ada sedikit cerita tentang masa lalu. Saat diri ada dimasa-masa ini. Sejak awal kenal cinta, Sudah ribuan kali juga pasti mendengar nasihat dan motivasi dari teman-teman terdekat yang nyuruh buat ngungkapin secara langsung perasaan yang dimiliki. Namun ketika itu, diri memang mendengarkan apa yang mereka perintahkan. Tapi sengaja nggak digubris. Karena menurut pribadi, urusan cinta nggak usahlah orang lain ikut campur, tapi dengerin aja sarannya. Ada seseorang. Yang namanya pernah menghiasi hati ini selama 7 tahun. Apakah berakhir indah? tidak. Yang ada hati ini juga yang memutuskan mundur dan menyerah. Pengecut ya? emang iya. Dari awal, diri ini memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman biasa, tentunya dengan harapan bisa bersama suatu saat nanti. Dari awal juga, diri sudah ber-deal dengan segala sesuatunya, apapun konsekuensinya. Bersiap dengan resiko yang nantinya harus diterima sebagai seorang pengagum rahasia. Yang tidak memiliki keberanian dan kesanggupan untuk mengungkapkan segala rasa yang ada untuk dia.

Saat itu, bagi diri ini jadi temannya saja cukup. Yang penting bisa selalu melihatnya, meskipun hanya dari kejauhan. Namun, diri pun harus kembali ber-deal dengan adanya tembok pembatas di antara kami. Bukan karena berbeda ruang dan waktu. Melainkan karena kami memiliki satu rasa yang sama-sama membuat kami menciptakan tembok pembatas itu. Gengsi. Ya, gengsi untuk ngajak ngobrol. Pernah diri ini berfikir, mestinya kan yang gengsi cukup aku karena aku yang suka, terus kenapa dia harus ikut-ikutan?. Hatipun juga sempet ke-ge-er-an saat temen-temen pada nyangka kalau dia juga punya rasa yang sama. Ya, gimana nggak baper coba? sementara diri ada di posisi berharap?

Yang paling neng suka saat itu dari dirinya adalah senyumnya. Senyumnya sangat manis dan menenangkan. Inilah salah satu alasan kenapa bisa bertahan selama itu jadi pengagum rahasianya. Cuman senyum aja, simpel. Saat itu, neng nggak mau senyum itu pudar dari wajahnya saat kami berpapasan, jika rasa itu neng sampaikan. Cukup aja diri dan Tuhan yang tau tentang rasa itu.

Neng punya satu sahabat yang tau banget tentang hal ini. Dia pernah nyuruh neng buat berhenti untuk menjadi pengagum rahasia. Karena dia gemes banget sama neng. Kok mau aja bertahan suka padahal dibales aja enggak? Ya gimana mau bales, bilang aja belom. Sahabat neng bilang, nggak ada untungnya jadi pengagum rahasia. Dibayar enggak. Ada hasilnya juga enggak. Dia peka pun juga enggak. Jadi percuma. Saat itu, neng masih tetep teguh pendirian. Rasa itu wajar kalau ada. Cinta pun juga datangnya tanpa diduga. Diri pun nggak pernah menganggap kekasihnya. Dan nggak mau peduli juga. Entah dia ada hubungan sama siapapun, Fokus diri ya cuma dia, bukan kekasihnya. Kalau ditanya emang nggak cemburu? pasti cemburu bahkan ada juga rasa ketidakrelaan saat dia bersama kekasihnya. Tapi balik mikir, kenapa harus marah-marah sementara diri bukan siapa-siapa dia? Nggak pantes rasanya kalau marah. Tapi, jadinya ya, Sakit, cemburu, patah hati semua ditanggung sendiri.

Banyak yang dilalui selama memiliki rasa itu. Banyak nangis sih awal-awal dulu, cuman makin kesini makin bisa sabar dan bisa menerima, karena ngerasa wajar. Yang punya hubungan aja nggak menutup kemungkinan ada perselingkuhan, apalagi diri ini yang nggak punya hubungan apa-apa sama dia, kecuali cuman sekedar memendam rasa aja.

Akhirnya, saat 7 tahun pun berlalu. Kami sudah sama-sama lulus. Ketemu lagi pun nggak mungkin. Bahkan, terakhir dengar kabar, dia membina hubungan baru lagi sama salah satu temen di SMA dulu. Fiuhhh… lagi-lagi semua hubungan yang dia bina, semuanya sama orang yang diri ini kenal juga. Tau kan rasanya gimana? Saat orang yang disuka sejak lama, punya hubungan sama temen-temen kita? Ini bukan makan temen, karena emang gak akrab, dan mereka pada nggak tau, kalau ada hati yang sejak lama menanti kepastian. Ah, Yasudahlah, diri memutuskan untuk mengakhiri. Menyerah pada rasa yang dimiliki. Kalau dipikir-pikir buang-buang waktu sih. Tapi, terlambat juga buat disesali, toh udah terjadi.

Syukur, diri ini bukan tipe yang ngebuang hal-hal yang berhubungan sama si dia. Biarin ajalah, ada dikamar juga. Biar jadi kenangan aja, walaupun nggak berakhir bersama, tapi kalo berjodoh ya siapa yang tau kan? Butuh waktu sekitar 1 tahun setengah untuk move on dan benar-benar hanya bisa tulus ngucapin ke dia, doain kebahagiaan dia, ngedukung dia sama temen sendiri. Kuncinya sih Ikhlas. Karena, cinta itu nggak harus memiliki. Sayang juga nggak harus bilang. Pernah di kasih rasa cinta, syukurin aja. Pernah merasa sakit hati, ya syukurin aja artinya masih punya hati. Pernah ngerasain pusing karena cinta juga ya disyukurin aja, tandanya masih punya kepala. Masih dengar kabarnya juga syukurin aja, artinya kita masih sama-sama hidup. Lupakan rasanya, bukan orangnya. Karena sampai kapanpun, kita tetep temen.

Jalanin hidup masing-masing, tanpa harus ganggu hubungan orang. Cari cara bahagia masing-masing tanpa harus ngelakuin hal yang nggak boleh buat dilakuin. Nggak perlu lah galau. Sedih boleh, putus asa jangan. Percaya aja, jika waktumu tiba pasti ada yang indah yang diberikan untukmu. Fokus aja, sama kerja dan keluarga, nggak usah galau lah ngeliat yang lain pada punya pacar, pada nikah juga, toh nanti saat jodoh datang juga bakal nyebar undangan sendiri. So, jangan patah semangat sih. ingat ada keluarga yang harus dibahagiain.

Eh penting nggak sih cerita ini di share? kayaknya enggak deh. Ah, tapi gapapa deh, jadi kenangan disini, kalau diri ini juga pernah alay hihi. Harapannya, semoga dalam waktu dekat ketemu yang terbaik aja, udah. Makasih udah baca, maaf panjang. Kalo curhat mah harus panjang, kalau nggak panjang nggak greget, siapa yang setuju?

Hayo siapa disini yang pernah punya cerita sama kayak neng? mungkin bersedia untuk di share? boleh ^^

 

 

Jangan Percaya Sepenuhnya

Assalamu’alaikum ^^

Hola ^^

Pernahkah kamu merasa kepercayaan yang kamu berikan untuk orang lain dikhianati?

Pernahkah kamu merasa kepercayaan yang kamu berikan dianggap biasa saja?

kalau pernah, kita sama.

Terkadang, diri ini merasa sangat bodoh. Lebih ke bingung sih sebenernya. Antara bodoh atau memang terlalu baik. Padahal, tujuan aku hanya ingin jadi orang baik. Tapi kenapa? ketika percaya pada seseorang nggak semuanya berakhir indah. Ada saja saat-saat kepercayaan itu dikhianati. Dibohongi. Dikecewakan.

Bagaimana bisa orang yang begitu dipercaya ternyata adalah orang yang paling mengkhianati kepercayaan ? Bagaimana bisa justru orang yang paling akrab, paling dekat, paling tau segalanya tentang diri ini, diluar maupun didalam adalah orang yang paling mengkhianati ? Walaupun, nggak semua orang merasa dan memang menjalani hal seperti ini, tapi pasti ada yang pernah mengalami hal ini.

Saat tau kenyataan menyakitkan bahwa kepercayaan yang diberikan telah dikhianati, disaat itu juga hati merasa sangat kecewa. Mau marah, tapi bingung karena dia yang biasa dekat dengan diri.

Manusia itu berbeda-beda karakternya. Ada yang pemaaf, meskipun sudah dikhianati dia tetap percaya pada orang itu. Ada yang pemaaf, tapi setelahnya nggak mau percaya sepenuhnya lagi. Ada juga orang yang butuh waktu untuk bisa sekedar memaafkan dan membangun rasa percaya lagi, dan itu waktunya nggak sebentar. Dan ada juga orang yang bisa memaafkan, tapi setelahnya ” udah, hubungan kita cukup sampai disini, aku harap kamu nggak melakukan hal yang sama seperti kamu lakuin ke aku terhadap orang lain “. Nggak mau lagi berteman. Karena merasa dikhianati. Apalagi, kalau tau dan faham memang sifat orangnya yang suka berbohong. Suka mengkhianati. Memang perlu untuk dipikirkan bagaimana yang terbaik kedepannya untuk kedua belah pihak. Bahkan ada yang lebih parah ” tiada maaf bagimu “.

Kita hidup, mustahil apapun yang kita lakukan nggak dikomentarin sama orang lain. Semua yang kita lakukan, baik atau buruknya selalu aja salah dimata orang lain. Mau maafin dianggap terlalu baik. Nggak maafin dianggap jahat. Jadi serba salah.

Ih, dia kan udah salah. Udah bohongin kamu. Udah khianatin kamu. Udah ngerusak kepercayaan kamu, kok masih aja sih dimaafin? “

” kamu itu bodoh atau baik sih? udah pernah dibohongin. Udah pernah dikhianatin. Tetep aja kamu percaya. Nggak takut dikhianatin lagi? “

” Kamu kok jahat sih. Masa nggak mau maafin dia. Allah aja Maha Pemaaf, masa kamu yang cuma manusia biasa nggak mau maafin dia? berlebihan kamu. “

Kurang lebih seperti itu cuitan para netijen. Seakan apapun yang kita lakukan. Keputusan apapun yang kita ambil. Nggak ada yang bener. Selalu salah aja dimata orang lain. Jadi bingung harus berbuat apa. Padahal hidup kita masing-masing yang jalanin, kenapa orang lain harus ikut mengatur apa yang harus kita lakukan.

Lalu, Apa yang harus dilakukan ?

Kalau menurut aku, kalian boleh setuju atau enggak ^^. Silahkan dengar apapun komentar orang lain tentang apa yang kita lakukan. Tapi, jangan cepat jadi down ketika ada yang berkomentar buruk tentang kita. Komentar baik terima. Begitupun dengan komentar buruk. Jadikan aja pertimbangan, langkah apa yang sebaiknya diambil untuk orang yang mengkhianati itu. Penting memang kita untuk mendengarkan komentar orang lain sebagai bahan kita pun introspeksi diri. Tapi, ada beberapa komentar nggak harus kita pikirin. Karena hidup kita masing-masing yang jalani. Semua orang punya tujuannya masing-masing dalam menjalani hidup. Biarin mereka mengurus dan mengatur kehidupan kita, tapi kita nggak perlu ikut-ikutan mengatur hidup orang lain.

Aku yakin dan percaya bahwa apapun yang dilakukan, keputusan apapun yang diambil, pasti sudah dipikirkan dengan bijak dan sebaik mungkin. Kita pun juga jangan suka mengomentari hidup orang lain. Jangan suka ikut campur sama urusan dan masalah orang lain. Hidup kita masing-masing. Sibukkin diri aja buat nyari bekal buat hidup abadi diakhirat nanti.

Kitapun juga nggak bisa sepenuhnya nyalahin orang yang khianatin kita. Barangkali ada sesuatu hal, yang mana dia terpaksa harus mengkhianati kita. Entah itu untuk kesenangan dia sendiri atau dia nggak mau kehilangan kita juga. Tapi ya, kalau bisa sih lebih baik untuk tidak mengkhianati orang lain. Apapun alasannya.

Kitapun juga, terhadap apa yang orang lain lakukan lebih baik untuk memaafkan, tapi kedepannya jangan pernah percaya sepenuhnya lagi. Karena meskipun dia sudah berjanji untuk nggak mengulangi hal yang sama lagi, siapa yang bisa menjamin dia bakal setia dan nggak akan mengkhianati kita lagi kedepannya?

Dan, sebagai manusia yang baik, kita pun jangan pernah mengkhianati kepercayaan seseorang. Apapun alasannya. Karena sekali kita berbohong atau berkhianat, selanjutnya orang pasti nggak akan pernah mau untuk percaya sepenuhnya lagi.

Katakan kejujuran meskipun pahit, nggak harus berbohong. Walau manis, semanis apapun kata-katanya yang namanya bohong tetep aja kebohongan, suatu hari akan ketahuan juga. Jaga kepercayaan orang lain walaupun sulit, karena ketika sekali kita berkhianat selanjutnya orang akan hati-hati dengan kita.

Hidup itu sebenernya gampang, tinggal jalani aja takdirnya sambil terus berusaha jadi orang yang lebih baik. Tapi, komentar orang lain yang bikin hidup ini jadi ribet. Maunya kita nggak ada masalah di hidup ini. Tapi kadang kita suka nyari-nyari masalah. Kalau bukan kita ya orang lain yang nyari masalah. Gitu aja terus bergantian.

Kalau mau hidupmu tenang, jangan memulai dengan mengomentari orang lain. Kalau mau hidupmu nggak ada masalah, jangan suka nyari gara-gara sama orang lain. Setiap apapun yang kita lakukan pasti ada balasannya. Nggak cuma di dunia tapi diakhirat juga ada balasannya. Sekecil atau sebesar apapun kebaikan ataupun kejahatan yang kita lakukan akan ada balasannya nanti.

So, yang masih suka bohong, yang masih suka berkhianat, yang masih suka mengatur hidup orang lain, yang masih suka nyari-nyari masalah dengan orang lain, atau apapun yang masih suka dilakukan lainnya, mulai sekarang stop. Kalau nggak bisa berhenti sekalian, cobalah untuk pelan-pelan mengurangi dan membiasakannya. Karena sesuatu yang nggak biasa kalau dilakukan terus-menerus akan bisa juga. Nyari perhatian, nggak mesti banyak sensasi. Buktikan aja dengan prestasi. Oke?.

Semangat ^^