Tak terpilih, aku bukan bonekamu

Assalamualaikum 😭

Malam ini aku sama sekali belum bisa tidur, padahal udah jam 01.35 malem. Hatiku rasanya masih sakit, sedih, gundah. Ketika aku merasa marah aku paling tidak pandai untuk mengungkapkannya, biasanya aku hanya bisa meluapkannya dengan nangis.

Sejak kecil, aku sama sekali enggak pernah terpilih untuk melakukan apapun. Ketika aku pulang atau jalan bareng sama teman cewek yang cantik, misal lagi belanja atau lagi makan, aku sering banget dapet dicuekin, dimahalin. Tapi temanku yg cantik, diramahin, dimurahin bahkan di gratiskan. Melihat temanku yang cantik, aku jadi sadar diri apa alasan aku tidak pernah terpilih.

Rasanya agak sakit ya ketika kita tau ternyata orang – orang masih banyak banget yang menjadikan ” tampilan fisik ” yang utama. Entah dia punya keahlian atau bakat atau tidak, intinya asal kamu cantik aja udahlah aman. Mungkin nggak semuanya, tapi yang selalu kutemui nyaris semuanya hampir seperti itu. Cantik yang pertama.

Saat sekarang pun aku juga masih tetap merasakan hal yang sama. Dirumah, tanteku buka usaha rias penganten. Pasti banget dia butuh model, tapi dia nggak pernah nawarin aku katanya sih karena aku enggak cantik, enggak tinggi dan enggak putih. Darisini aku semakin percaya kalau orang indonesia sangat amat memilih, harus cantik tanpa sadar bagaimana penampilannya sendiri. Tanpa mikirin orang yang dia pilih berbakat atau tidak, intinya asal kamu cantik aja. Aku sampai sini sih enggak papa, tapi akibatnya aku jadi tidak mau membuka hati untuk orang indonesia.

Yang sedih dari cerita hidupku adalah, tante selalu menyuruh ini itu kesana kemari. Dia selalu beralasan ada bayi. Dan aku harus mengikuti kemauannya semuanya. Anehnya dari sifat tante yang sangat tidak aku suka adalah ketika kita menunjukkan ekspresi marah, tante yang malah marah balik. Dia memanfaatkan keahlianku dengan menggunakan namanya, sehingga seolah-olah dialah yang berkeahlian itu. Aku benar-benar merasa seperti boneka dia yang harus selalu patuh.

Belum lagi, keselnya aku sama tante, dia pesan kuku palsu, katanya nanti dibayar, sampai sekarang enggak ada satupun yang dibayar, begitu juga dengan privatan. Aku privatin anaknya, tapi sudah 2 bulan ini enggak ada dibayar. Aku bukannya tidak ikhlas, hanya saja aku merasa pekerjaanku tidak dihargai. Yang aku kesel dari kasus kuku palsu tadi selain tidak dibayar, dengan santainya tante bilang make up sama dia gratis kuku palsu. OMG ! Apa dia enggak salah ? Apa dia enggak mikir berapa banyak waktu yang kuabisin buat bikin pesanan dia tapi dengan santainya dia ngomong kuku palsunya gratis.

Rasanya pengen banget buang semua peralatan kuku palsu. Sudah aku pakai modal pake uang gaji yang minim. Buat apa ? Toh enggak dihargain. Jangankan dibayar dalam bentuk photonya pun tidak ada. So, karena enggak bisa marah jadi yang kulakukan hanya menangis menangis dan menangis. Menangisi nasib kenapa nasibku seperti ini.

Sudahlah ya sekian curhatan unfaedah ini. Bye. Thanks kalau ada yang baca.

4 komentar di “Tak terpilih, aku bukan bonekamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s