Hatiku sebagai seorang Perempuan

Assalamu’alaikum semuanya….

Mendekati Hari Kartini, enggak tau kenapa akhir-akhir ini aku merasa mellow banget, baper banget, dikit-dikit sedih. Ada yang menyinggung dikit, sedih, nangis. enggak ngerti deh, apakah ini cuma aku ? atau semua perempuan yang ada di dunia ini memiliki hati yang lemah seperti aku ?

Terkadang aku iri banget sama sosok perempuan yang kuat, tegar, tangguh. Aku, kadang sering bertanya kepada diriku sendiri, kenapa aku tidak sebahagia mereka (menurutku) ? kenapa aku tidak bisa berkata ‘tidak’ ? kenapa aku selalu menerima apapun? kenapa aku selalu berkata iya ? jujur aku paling lemah sama kata tolong sebenernya. Aku selalu berpikir untuk berubah menjadi lebih tegas, lebih bisa dan lebih berani untuk menolak, tanpa perduli bagaimana perasaan orang lain. Tapi, setiap kali aku ingin tidak perduli, hatiku justru selalu jadi yang paling pertama untuk perduli. semacam hati dan pikiranku enggak sejalan. aku selalu punya rasa kasihan untuk semua golongan. kadang aku rela ngorbanin duit, waktu, dan tenaga, tanpa mereka tau kalau aku sendiri sedang kesusahan. aku udah enggak ngerti lagi sebenernya sama diriku ini. kenapa sih kok enggak bisa berubah ?

banyak banget kejadian yang menunjukkan hati dan pikiranku tak sejalan. baik di rumah ataupun disekolah. kadang bikin aku merasa benci dengan sikapku sendiri. kadang hal ini yang membuat hatiku menjadi selalu sensitif. aku selalu merasa dimanfaatkan. dan yang paling sedih adalah ketika semua hal yang kulakukan enggak dihargai. mereka seperti membutuhkan keahlianku, tapi mereka tidak mengapresiasi hal itu.

contoh, di sekolah aku adalah wali kelas. karena hobi aku menari atau seni, aku mengajarkan hal itu kepada anak-anak, berawal dari iseng sampai akhirnya ditetapkan menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Anak-anak biasanya aku korbanin waktuku buat ngelatih bakatnya selama 3 jam, menurutku kurang dari 3 jam enggak bisa. aku juga ambil latihan di setiap hari jum’at dan sabtu. sedihnya adalah aku sendirian. itu sudah menjadi kegiatan eskul, tapi lebih sedihnya lagi adalah kenyataan tidak dibayar…. aku bukan tidak ikhlas, tapi aku enggak bisa memungkiri kalau aku enggak butuhkan uang. seenggaknya kepala sekolah mengapresiasi dan menghargai keahlianku. tapi nihil. aku sudah berbicara kepada bendahara sekolah, sudah disampaikan kepada kepala sekolah, kata beliau iya nanti dibayar, tapi aku kembali harus berdamai dengannkenyataan kepala sekolah mengambil guru tari dari luar sekolah yang sebenarnya adalah wali murid sendiri. kepala sekolah lebih rela membayar dia daripada aku. disini aku sedih banget, mau nangis rasanya. aku boro-boro dibayar setelah semua hal yang kulakukan, malahan mau diganti. silahkan dicari adakah orang lain yang lebih rela mengorbankan waktunya selama diriku ? aku rasa susah.

contoh lagi dirumah, aku sudah pernah cerita kan ? sudah sekitar 2 bulan ini aku privat di rumah tapi enggak dibayar. belum lagi orderan kuku palsu dari tante buat keperluan photoshoot dia yang sebenernya kuku palsuku sendiri enggak dipotonya, dia order tapi enggak dibayar. ahh benar-benar bulshit banget. rasanya hatiku selalu ingin menyumpah. kenapa takdir hidupku harus sesedih ini ? sudah aku punya hati yang lemah baperan adanya hal-hal kayak gini bikin aku down setiap hari.

Jujur saja, aku selalu ingin kabur. tapi lagi-lagi hatiku punya rasa kasihan, nanti kalau kabur siapa yang kasih makan kai yang struk itu ? nanti kalau kabur siapa yang bantuin nenek masak di dapur ? nanti kalau kabur siapa yang bisa dimintai tolong sama nenek ? karena si tante (baca : anak nenek) sendiri enggak mau disuruh, kalau dimarahin dia marah balik. kalau aku dimarahin aku diem. kuterima semua cacian dan makian. biarin aja mereka mencaci atau memakiku asal bukan orang tuaku.

hari demi hari kulalui seperti ini. tak ada bahagia hanya selalu sedih. belum lagi ditambah…. tentang menikah. aku sudah punya seseorang yang aku cintai, tapi di keluarga selalu menyuruh ” ikut ke rumah acil ya kalau malam sabtu, nginap kan ada habsyian di rumah, banyak habib yang datang, siapa tau ada jodohmu disitu… “… gimana ya … aku rasanya sedih banget. aku bukan enggak mau kalau berjodoh sama habib, tapi aku sadar diri, aku tidak sesolehah itu untuk berjodoh dengan orang alim. aku masih suka enggak tau mungkin melakukan dosa tanpa aku sadari, kelebihanku mungkin tidak ada, kelemahanku adalah selalu menurut. coba deh kalian bayangin, gimana sedihnya, saat kalian sudah mencintai seseorang, tapi kalian malah harus menikah dengan orang lain ?

aku tidak mengerti bagaimana Tuhan mengatur takdirku, tapi yang aku rasakan adalah aku belum pernah bahagia. aku tidak mengerti kenapa jalan hidup yang kujalani harus sesedih ini, kenapa harus selalu berurai air mata, dan kenapa aku harus punya hati yang lemah ? kenapa aku selalu menjadi orang yang penurut yang selalu menerima tanpa bisa berkata tidak ? Tuhan aku benar-benar tidak mengerti.

Bahkan yang aku sedih lagi saat ini adalah tentang bae. aku sih berdoa agar kami berjodoh, tapi aku tidak tahu apakah Tuhan menakdirkan kami untuk berjodoh ? ketika aku disuruh menikah saja dengan habib aku jujur sedih banget, kami diam-diam sudah berkomitmen dan berjanji untuk saling menunggu. pokoknya sedih banget aku enggak ngerti lagi gimana mengutarakannya. ketika aku bertemu bae, karakter dia 98 persen mirip dengan sahabatku zizit, baiknya, bedanya sama zizit cuma dari segi jenis kelamin. walaupun bule, tapi dia muslim. sesuailah sama karakter yang aku inginkan tapi juga yang aku butuhkan. tapi aku enggak tau harus bagaimana jika suatu saat nanti, Takdir Tuhan benar-benar berkata lain. yang pasti baru si tante ngomong nikah sama habib aja aku sudah sedih banget. apalagi kalau itu benar-benar terjadi ?

kalau suatu saat benar-benar terjadi, pasti nanti si orang lain itu cuma sekedar suami, tapi aku enggak cinta. berdosakah aku nanti jika sebagai istri ? aku menikah, tapi hatiku mencintai orang lain ? lalu aku harus bagaimana ? apakah harus mengikuti pilihan keluarga ? atau mengikuti kata hatiku saja ? untuk saat ini hatiku selalu berkata ” kabur saja ” tapi kali ini pula pikiranku berkata ” bertahan saja “. aku tidak menangis, aku benar-benar tidak menangis, air mataku memang keluar, tapi aku tidak menangis…. aku hanya sangat sedih saja … aku tidak mengerti dengan Takdir hidup yang kujalani, yang pasti aku berharap Tuhan ijinkan aku bahagia nantinya. jika aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku cintai, aku berharap Tuhan mengirimkan dia yang benar-benar mencintaiku dan tahu bagaimana menghormati dan menyayangi diriku sebagai seorang perempuan. Tuhan, aku sudah tidak tahu harus melakukan apa terhadap hatiku, kuserahkan kembali hati dan Takdirku kepada Engkau, tentang bagaimana aku bahagia ? aku akan mengikuti cara Engkau saja.

2 komentar di “Hatiku sebagai seorang Perempuan

  1. Sesekali bilang tidak tuh nggak apa-apa kok. Demi diri sendiri. Apalagi kalau kita tau hal itu memberatkan diri sendiri, lebih baik nolak aja.
    Saat sudah terbiasa bilang ‘iya’ memang awalnya sulit utk bilang tidak. Tapi kalau dipikir2 lagi, ngapain mikirin orang yg nggak mikirin kita? Kenapa harus merepotkan diri sendiri padahal diri sendiri sudah repot?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s