Suku Campuran, Dominan ke Banjar

Assalamu’alaikum πŸ™‚

Hola Guys πŸ™‚

Terkadang, mencintai dari awal itu sulit, namun saat sudah masuk ke dalamnya pasti akan ada hal yang membuat kita berpikir untuk terus bertahan di dalamnya. Ya, sebagaimana orang berkata, ” Cinta karena terbiasa ” . Terkadang, menyukai dari awal itu tidak mudah, apalagi kalau memang dari dasarnya udah beda genre, tapi saat sudah masuk dan menjalaninya, terkadang disanalah pikiran untuk bertahan mulai muncul dan terus muncul.Β 

Aku dilahirkan dari keluarga campuran Suku Banjar dan Suku Bugis, mama banjar papa bugis πŸ™‚ Jadi, kalau ditanya suku apa kadang suka bingung akhirnya cuma bilang ” gado-gado Bubar a.k.a campuran banjar bugis ” πŸ˜€ kadang juga kalau ditanya suka bilang ” karena katanya kalau anak itu ikut papa, jadi akunya bugis ” πŸ˜€ padahal dalam keseharianku, hidup di lingkungan banjar, bahasa, adat dan budaya yang dipake ya banjar πŸ˜€ 90% banjar lah diriku ini. Kalau berbicara dengan orang lain, kalau itu bahasa banjar, uhhh lancar banget lah nyambungnya, tapi kalau sudah bahasa bugis ? ” ngomong apa pale orang-orang ini ” πŸ˜€ kadang ngerti artinya, cuman ngomong bugisnya gak bisa πŸ˜€

pernah nih ya, temen sekampusku (beda kelas) nanya gini :

    • Y : temenkuΒ  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  N : Aku

Y : Kamu sukunya apa ?

N : Aku ? sehari-hari sih banjar, tapi karena ngikut suku papa, jadi aku bugis πŸ˜€

Y : jadi, kamu bugis ?

N : iya, kalau ikut papa πŸ˜€

Y : berarti kalau mau ngelamar kamu, mahal dong ya, kan orang bugis πŸ˜€

N : itu sudah πŸ˜€

mungkin itu juga kali ya, faktor ku belum nikah πŸ˜€ karena orang bugis dikira duit panainya mahal banget πŸ˜€ jadi pada mundur duluan πŸ˜€ padahal enggak juga kalau akunya, tapi mungkin keluargaku iya πŸ˜€ Kadang emang repot kalau udah bilang bugis πŸ˜€ responnya beda kalau aku bilang banjar πŸ˜€ gak tau juga kenapa πŸ˜€ tapi jujur sih, aku emang lebih respek ke suku mama daripada suku papa πŸ˜€ suku mama lebih mudah dipahami daripada suku papa πŸ˜€ suku mama lebih lembut, suku papa lebih keras πŸ˜€Β 

Nah, dari sini aku kadang suka mikir, nanti kalau nikah jadinya adat apa ya πŸ˜€ adat banjar atau adat bugis ? sementara keduanya sama-sama keluarga besar πŸ˜€ pasti bakal bingung kalau pilih salah satu diantara keduanya πŸ˜€ repot ya πŸ˜€ kadang pernah juga mikir, daripada repot pilih banjar atau bugis, pakai adat lain aja biar gak berantem πŸ˜€ tapi ya kagak bisa begitu πŸ˜€ namanya ada orang tua, sudah pasti secara adat mereka yang atur, kita mah sebagai anak kudu manut aja sama aturan orang tua πŸ˜€

kemudian, aku nge-research kedua suku ini, buat nikah nanti πŸ˜€ demi apa coba πŸ˜€ iseng aja sih πŸ˜€ cari-cari tau adat-adatnya apa aja πŸ˜€ dan setelah itu, kenapa aku malah jatuh hati sama adat banjar πŸ˜€ aku jatuh hati karena ada adat yang namanya Ba’usung ( pengantin digendong di pundak) kenapa hati ini kayak yang langsung fall in love lawan ba’usung πŸ˜€ itu di resepsi biasanya. dan ada juga di adat bamandi-mandi (mandi-mandi calon pengantin) gimana ya, udah dandan cantik, terus dipakein melati ala adat banjar, abis tu dimandiin πŸ˜€ udah cantik baru dimandiin πŸ˜€ kok kebalik gitu, dandan dulu baru mandi πŸ˜€ unik gitu πŸ˜€

Aku kan lahir di Banjarmasin, jadi darah banjar tu kental banget di aku, ya tau lah kita banjarmasin itu kan kota Santri πŸ˜€ aku kalau sudah pulang ke banjar, rasanya pengen menetap bawaannya πŸ˜€ karena kayak yg beda banget sama di samarinda πŸ˜€ Kelebihan banjarmasin di mataku tu ya, adat budayanya kental dan dibawa sampai di kehidupan sehari-hari bahkan sampai ada yang jadi eskul di sekolah. Nah, adat kaya gini aku adopsi sedikit di Samarinda, jadi mau juga adat kalimantan timur dibawa jadi eskul di sekolah, tapi ya tetep aja pasti jarang dipake disini.

Di banjar itu ada kesenian yang paling sering ada di sekolah dan di kampus, Madihin ( kayaapa caraku menjelaskan ini, coba kalian buka youtube aja deh, bingung aku soalnya ) dan musik panting ( musik khas kalimantan selatan). Diantara keduanya, aku sih lebih suka musik panting (biasanya mereka suka kayak ada festival gitu, bahkan di penganten pun di banjar juga melestarikan kesenian ini).Β 

Mungkin kalau kalian orang banjar atau kalian pernah ke banjar, kalian pasti tau salah satu ikon kota Banjarmasin, yaitu Pasar terapung ( pasar subuh di atas kapal) kalau dulu kalian sempat liat iklan rcti oke itu yang ibu-ibu jualan di atas kapal nah kaya gitu sudah. Di muaranya itu kadang suka ada pegelaran musik panting. Aku kalau pulang ke banjar, pasti mampir kesini, nanti kalau ketemu orang main musik panting, stand by memang aku di depan panggung buat nyumbang nyanyi lagu banjar dengan iringan musik panting, kayamana ya habis aku kehimungan (bahasa banjar : kesenangan, senang bukan main, senang banget), soalnya di Samarinda cuma ada satu grup musik panting kayagitu, kurang rame, gak kayak di banjar πŸ˜€ makanya kalau kota mau pindah kemana ? ya Banjarmasin lah, the best kota lahirku yang tercinta emang yahud bin mantul πŸ™‚Β 

begitulah ya, kadang suka bingungnya kalau jadi orang campuran πŸ˜€ karena sukunya gak tulen πŸ˜€ jadi punya 2 budaya yang berbeda, aku lebih ke banjar, kalau adekku lebih ke bugis, udah adil deh bagi-bagi aja kami daripada harus belajar lagi dari awal πŸ˜€ gak mau kalau belajar, cukup tau aja sama adat-budayanya πŸ˜€ kalian gimana ? ada yang sukunya campuran juga gak ? terus kalau ditanya kalian jawab apa ? dan kalian lebih dominan ke suku yang mana ?

oh Iya, mungkin lain kali aku akan cerita tentang banjar, sekaligus postingannya ada bahasa banjarnya ya πŸ™‚ Oh iya, ketinggalan apakah kalian tau ? orang banjar itu ( yang tinggal disana) adem-adem dilihat plus bungas-bungas ( ganteng/cantik) gitu loh πŸ˜€ apalagi duduk-duduk santai di alun-alun ehhh ada santri lewat ya Ampun goyah iman unda (saya), liat yang bening begitu πŸ˜€ πŸ˜€ gimana gak langsung kepengen punya suami orang banjar, biar akunya di angkut ke banjar gitu πŸ˜€

udah dulu ya, nanti kita sambung lagi, pokoknya kalau ceritaan banjar emang ga ada abisnya πŸ™‚

Sepintas Pikiran menjelang 25

Assalamu’alaikum πŸ™‚

Hola πŸ™‚

Sebagai manusia biasa, terkadang kita memiliki begitu banyak mimpi, dan juga harapan. Semua impian yang sudah dirajut pun diharap bisa menjadi kenyataan dengan akhir yang indah. Namun, segala proses untuk bisa mewujudkan impian-impian tersebut tidaklah mudah, perjuangan yang indah dengan segala ujian dan hambatannya yang terkadang membuat hati selalu ingin menyerah, ada saja menghampiri untuk membuat goyah. Tapi, selama kita memiliki tekad yang kuat untuk bisa mencapai segala impian tersebut, suatu hari nanti impian-impian yang sudah dirancang bukan lagi hanya sekedar hayalan, Namun, itulah kenyataan yang indah yang harus disyukuri sepanjang waktu hidupmu.

Akhir-akhir ini, aku memiliki satu impian besar yang sebenarnya sudah aku rajut sejak beberapa tahun terakhir, hanya saja baru tahun ini aku mulai berpikir untuk benar-benar segera menjadi kenyataan. Impian aku yang paling besar adalah menikah, mumpung orang tua masih hidup, aku benar-benar tidak ingin termasuk golongan orang yang lambat menikah, tapi kapan jodoh itu akan datang, aku juga tidak bisa menerka-nerka waktunya.

Terkadang suka tertawa sendiri, mau menikah Desember, tapi calonnya belum ada hihi. Sepanjang bulan, sepanjang Minggu dan sepanjang hari, setiap pergi ke kondangan, setiap ditanya ” kapan nikah ? ” selalu menjawab ” Insyaallah Desember ” yang entah desember tahun berapa itu akan kejadian. Kok ya pede banget gitu πŸ˜€ lalu, menjelang bulan Desembernya mendekat jadi suka was-was sendiri, ” udah mau Desember aja ih tapi kok calonnya belom juga datang, wah bakal mundur lagi nih ” πŸ˜€ begitu terus setiap akhir tahunnya, macem mana ya keinginan tidak berjalan sesuai takdir πŸ˜€ Jadi, ya harus menunggu lagi, sampai waktu yang sudah ditakdirkan. Tapi kadang, sabarnya itulah yang berat hihi.

Apalagi, banyak temen sekolah, kuliah, bahkan kerja yang sudah menikah lama bahkan sudah memiliki anak yang hampir memasuki usia sekolah, kadang disitulah aku merasa tua banget πŸ˜€ temen-temen dah punya anak mau sekolah lah aku masih belum menikah πŸ˜€ ini aku yang ketuaan atau mereka yang kecepetan nikah ? tapi ya gitu emang faktanya rata-rata temanku sudah mulai menikah sejak masa kuliah, salut deh bisa bagi waktu antara keluarga dan pendidikan, menurutku itu sih keren, udah bisa mandiri dan mikirin masa depan padahal masih kuliah, udah bisa bertanggung jawab untuk kehidupan anak istri padahal masih kuliah, sementara aku, jangankan bagi waktu untuk keluarga, atur waktu sendiri aja kadang suka kewalahan πŸ˜€ gimana bisa bertanggung jawab secepat itu πŸ˜€

Kadang nih ya, aku udah belajar banyak hal yang menunjang nanti kalau berumah tangga, belajar ngurus anak, belajar masak, belajar mengurus rumah, belajar parenting. Pokoknya segala persiapan ilmu buat menikah tuh semua sudah dilakukan, pokoknya terlihat siap 98 % buat menikah, bahkan dengan pedenya berkata ” Aku sudah siap nikah ” padahal kondisi masih sendiri, belum ada calon kandidatnya sama sekali πŸ˜€ ehhhh, pas ditawarin kenalan sama orang auto mendadak ciut, yang tadi 98% merasa siap nikah auto kebalik jadi 98% belom siap nikah πŸ˜€ kadang suka cerita kayak gitu sama zizit, zizit bilang ” harus siap terus pokoknya ” πŸ˜€ aih, atuhlah berat, tapi kepengen nikah πŸ˜€ macem mana lah ketidakjelasan saya ini πŸ˜€

Sampai, ada masanya dimana aku udah pasrah banget sama calonnya, akhirnya mulai nyeleksi teman-teman yang udah lama kenal buat dijadiin kandidat πŸ˜€ tapi, ya cuma aku doang yang tau πŸ˜€ Keluarga gimana ? keluarga nanya umur aku dulu, pas aku bilang OTW 25 langsung deh semuanya pada nyuruh nikah, aih nyuruh doang cariin kek calonnya πŸ˜€ dikiranya nyari calon kek beli kerupuk di warung, yang selalu ada kapan aja saat dibutuhkan πŸ˜€ andaikan seperti itu, mungkin dari dulu aku sudah nikah πŸ˜€ akhirnya, cuma bilang ” belum ada calonnya ” πŸ˜€ ” mau fokus kerja dulu ” πŸ˜€

Padahal kek aku gini, apa lagi yang dipikir coba πŸ˜€ lulus kuliah udah 3 tahun, kerja udah 3 tahun, punya bisnis sendiri udah 2 Tahun πŸ˜€ tinggal nunggu apa lagi coba ? selain nunggu ada yang bersedia nafkahin aku doang πŸ˜€ ehhhh πŸ˜€ tapi benerkan orang yang udah diumur aku, punya kerjaan juga pasti bakal mikir kayak gini kan ? atau jangan-jangan aku doang πŸ˜€Β 

Tapi begitulah, ke-gundah-gulana-an ku tahun ini πŸ˜€ ditambah pula ini musim corona kan, yang gak tau kapan berakhir ? tambah gelisah gelisah gelisah hatiku, ibaratnya ya, sebelum ada corona aja, aku belum ketemu sama jodoh, apalagi musim corona ini, tambah sulit kali ketemu jodoh, hehe. sebenernya sih santai, sambil menunggu takdir Tuhan, cuman itulah sepintas pikiran-pikiranku, yang mulai sudah ada buat bener-bener membina rumah tangga.

Kalau kalian ? di usia menjelang 25 apa pernah punya pikiran galau kayak aku juga ? atau bahkan sedang dalam situasi dan kondisi yang sama ? yuk kita berbagi cerita πŸ™‚

Bye semua, terimakasih sudah mendengar sedikit ceritaku hari ini πŸ™‚