Makna Bahagia, sesederhana itu

Assalamualaikum hay hay semuanyaaa ^^ *hebohhh*

Pada pagi hari yang cerah ini, alhamdulillah tumben gak turun ujan hihi, sambil tiarapan syantik di kasur emak wkwk sambil asyik scroll up-down akun-akun instagram, mencari topik dan perbincangan baru yang lagi viral, lalu beralih nonton video-video motivasi di youtube, tiba-tiba neng keinget sama kata ‘bahagia’, neng lupa deh udah pernah nulis tentang bahagia apa belom, soalnya males buka-buka udah panjang daftar postingan yang pernah neng buat, hihi. Jangan diikutin yah wkwk. *kemudian kabur takut kena lempar tomat*

Kalo ngomongin bahagia, neng rasa ini gak ada abisnya sih. Apalagi kadar ukuran dan penyebab bahagia setiap orang berbeda-beda. Punya cara dan jalan masing-masing untuk bahagia. Ada yang dengan hal sederhana udah bahagia. Ada juga yang dengan hal mewah baru bisa dikatakan bahagia.

Terkadang pun apa yang kita jalanin pasti beda dengan penilaian orang-orang yang hanya melihat dari kejauhan. Orang menilai kita bahagia, nyatanya bukan itu yang kita rasakan. Mungkin dari luar kita terlihat bahagia, tapi di dalam belum tentu. Karena yang tau bagaimana dan seperti apa bahagia untuk diri kita adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sekali lagi, bahagia adalah diri kita yang merasakan bukan orang lain yang menilai.

Ada juga apa yang membuat kita bahagia ternyata bagi orang lain hal itu gak membahagiakan sama sekali. Begitupun sebaliknya. Makanya jangan heran deh, kalo banyak manusia di zaman serba canggih dan modern ini yang masih suka iri bahkan kesal sama kebahagiaan yang dimiliki orang lain. Syukur kalo keirian dan kekesalan mereka bisa memotivasi diri mereka sendiri. Untung kalo keirian (?) dan kekesalan mereka gak sampe mendorong mereka untuk melakukan tindak kriminal. Coba kalo sampe ngelakuin tindak kriminal betapa berabenya tuh bakal jadi kasus panjang karena permasalahan sepele.

“Eh liat deh si A, kerjaan Bagus, duitnya banyak, pasti bahagia banget ya hidupnya”

Segera ditepis. Belom tentu seperti itu yang dirasakan. Karena penilaian dengan apa yang dilihat dan dirasakan itu sangat berbeda sekali.

Belom lagi, di zaman serba canggih dan modern ini. Media sosial bertebaran, mulai dari facebook, instagram, dkk. Bahagia dikit, cekrek, edit, aplod. Seneng dikit, cekrek, edit, aplod. Sedih dikit, cekrek, edit, aplod. Sekalian aja lagi ditoilet juga di aplod. Pamer. Ya, pamer lagi bahagia. Yakin beneran bahagia? Bisa jadi cuma pura-pura bahagia mau nunjukin ke semua orang di dunia kalo hidup dia bahagia banget. Orang sih, sekali dua kali ngelike mungkin ngerasa masih wajar, tapi kalo udah berkali-kali, orang-orang pasti bakal bosen dan cuek, bahkan sampai ada yang komentar pedes. Siapa yang salah disini? Kembalikan pertanyaannya, siapa yang mulai duluan? Memang aplod apapun di medsos itu hak kita, tapi kita harus ingat bahwa medsos bukan hanya milik kita sendiri. Ada orang lain yang juga melihat apa yang kita aplod.

Boleh sih aplod apa yang bikin kita seneng dan bahagia, asal jangan terlalu sering. Gak perlu aplod hal yang bikin sedihnya atau sakitnya. Sedih banget kalo kita aplod lagi sedih tapi banyak yang ngelike, artinya banyak orang yang suka ngeliat kita menderita. See? Pada gak mau kan seperti itu? So, aplod sewajarnya aja mulai sekarang. Orang lain boleh tau kebahagiaan kita, tapi jangan sampai tau kesedihan kita. Tapi bukan berarti harus pura-pura bahagia ya, itu mah beda. Hihi.

Kalo neng pribadi, bahagia itu gak harus mewah. Gak harus jalan ke mall, gak harus belanja barang branded dan mahal, kecuaii kalo ditraktir tanpa babibu langsung pilih yang paling mahal. Wkwk. Gak mesti naik mobil mewah, gak mesti makan pizza dan humberger. Dan gak mesti banyak duit juga.

Bahagia, sesederhana itu.

Jalan kaki sambil nikmatin alam semesta, menghirup udara segar sambil merhatiin kendaraan yang lalu lalang? Bahagia.

Berbagi pengalaman melalui cerita baik berupa curhatan langsung, nyanyi, bikin video pendek, atau tulisan sekalipun? Bahagia.

Bosan makan ikan atau ayam atau daging, males makan telur yang ada ikan asin, tapi dimasak asam manis? Bahagia.

Nolongin orang-orang di jalan, bantuin orang tua dirumah, melakukan hal yang disuka tanpa diperintah siapapun? Bahagia.

Bisa tidur dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tanpa gangguan jenis apapun? Bahagia.

Apalagi kalo tiba-tiba si doi datang kerumah bawa orang tua dan keluarga besarnya, beuh bahagia pake banget wkwk. *uppsss*

Bahagia, sesederhana itu. Itulah yang neng rasain.

Bukan kemewahan atau kekayaan yang menjamin kita bahagia. Kemewahan dan kekayaan hanya jaminan hidup kita berkecukupan, belum tentu bahagia. Karena fakta yang paling nyata adalah, bahagia itu sederhana, sesederhana sebuah senyuman manis dibibir, dan kelegaan yang ada di dalam hati.

Bagiku bahagia itu adalah, berbagi cerita. Berbagi kasih dan sayang, Berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama orang sekitar. Berbagi canda dan tawa, berbagi rasa dan pengalaman. Dan masih banyak lagi. Alhamdulillah kalau bisa berbagi rezeki biar rezeki kita tambah melimpah dan hajat lekas terkabul. Apalagi jika melihat orang-orang yang kita sayang dan kita cintai tersenyum bahagia, itulah makna bahagia yang sebenernya.

Itu pendapat saya, bagaimana dengan anda?

Selamat menjalankan segala aktivitasnya pada hari ini ^^

Advertisements

Suka atau Tidak, yang penting Amanah

Assalamualaikum semuanya ^^ apa kabar?? Lama kita tidak bersua hehe.

Hari ini, aku cuman mau nyampein sedikit opini aja sih, hihi. Seperti judulnya, suka atau tidak. Kalo suka monggo di lanjut baca, kalo enggak dilewatin ajah daripada kesel sendiri bacanya wkwk aku kan gak mau tanggung jawab wkwk.

Oh iya, mengenai judul aku asal aja sih ngasihnya soalnya pas kebeneran lagi dengerin lagunya wali band yang judulnya suka atau tidak, pas juga kemarin abis pemilu gubernur dan wakil gubernur daerah kami, Kalimantan Timur. So, karena aku ngerasa timingnya pas, ya udin aku tambahin aja biar lebih ngena hihi. Oh iya, kalo di daerah kalian gimana? Ada gak yang barengan pemilu gubernur dan wakil gubernur juga? Bisa deh disebutin daerah nya masing-masing di kolom komentar, tapi jangan rebutan okehhhh?? ^^

Kalo udah ngomongin pemimpin, semua manusia yang ada di dunia ini pasti kepengen pake banget punya pemimpin yang baik terutama peka sama keadaan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Sebenernya semua masyarakat pun, berhak mencalonkan diri menjadi calon pemimpin, tapi balik lagi kepada kemampuan diri, karena yang diurus itu bukan sekedar keluarganya, tapi juga banyak orang yang menaruh harapan tinggi kepada siapapun pemimpinnya, akupun begitu. Bagaimana dengan kalian?

Kampanye visi misi. Ya, mau jadi pemimpin entah dilingkungan terkecil sekalipun, visi misi pasti diperlukan, karena visi misi adalah janji maka kita berhak untuk menagihnya. Hanya saja, sangat disayangkan, terkadang mereka (baca: calon pemimpin) terlalu berambisi untuk membuat banyak sekali misi. Aku sempet bertanya-tanya, ‘banyak misi yang dibuat, apa mereka sanggup melakukan semuanya selama masa kepemimpinan mereka? Apa mereka bisa memenuhi satu persatu janji kepada masyarakatnya? Bagaimana jika sakit? Bagaimana jika meninggal? Bagaimana jika semua masyarakatnya demo? Apa mereka pikir dengan banyaknya misi masyarakat akan dengan mudahnya percaya?’ Kira-kira sebelum membuat misi yang sangat banyak, apa mereka berpikir tentang gimana melaksanakannya gak ya? Bagaimana menurut pendapat kalian? Apakah kita sependapat?

Aneka macam sumbangan. Pun, ketika masih calon, semua sumbangan dalam bentuk yang beraneka ragam dikirim dan dibagi-bagikan kepada masyarakat, lalu tim sukses mereka meminta untuk memenangkan sang pemberi sumbangan. See? Apakah benar ini bukan sogokan secara halus? Meski otakku bilang enggak, entah hati kecilku selalu bilang iya. Akupun juga ragu terkadang, apa boleh diterima sumbangannya sedangkan mereka menyampaikan maksud dan tujuannya? Sekali lagi, kepalaku mengangguk, tapi hati kecilku tidak.

Dari dulu, aku adalah orang yang ketika melakukan sebuah pilihan banyak pertimbangan-pertimbangan yang ada dalam pikiranku, makanya aku bukan tipe orang yang cepat mengambil keputusan. Contohnya dalam memilih pemimpin, banyak yang aku pertimbangkan, seperti berikut.

Pengalaman. Bagiku, wajah tampan atau cantik bukan segalanya. Karena ketika kita berhasil dalam hal apapun, belum pernah sekalipun aku denger orang memuji kecantikan atau ketampanan, semua pasti memuji kemampuan, dan kemampuan itu pasti didapat dari banyaknya pengalaman yang sudah dilalui sebelumnya. Bagaimana dengan kalian?

Kekayaan. Entah, dari dulu aku suka sama pemimpin yang kaya dari asalnya. Karena dalam pikiran aku kalo udah kaya kecil kemungkinan korupsi kan? Apalagi kalo kaya 7 turunan. Tapi kalo biasa aja, ada kemungkinan besar bakal tergiur sama korupsi apalagi zaman sekarang semua serba mahal, uang pun jadi Tuhan. Bagaimana dengan kalian? Don’t judge me, semua bebas berpendapat ^^

Kebapakan atau keibuan. Biasanya aku liat hal ini dari wajahnya yang teduh dan enak dipandang, gak mesti muda atau tua. Dan orang yang banyak senyum dan juga tenang menurut aku cocok buat jadi pemimpin. Karena apa? Terkadang banyak dari kita yang segan sama sosok pemimpin yang tenang. Nyaman dengan pemimpin yang berwajah teduh dan berhati baik. Karena terkadang gak semua yang wajahnya teduh itu baik, jadi kita harus lihat latar belakang keluarganya juga. Bagaimana menurut kalian?

Sosok pendamping hidupnya. Aku kalo kepoin sosok calon pemimpin, aku pasti kepoin juga siapa yang jadi pendamping hidupnya. Apalagi kalau calonnya para bapak-bapak, udah pasti kita harus bener-bener tau siapa istrinya jangan sampai karena cinta, istrinya bilang korupsi ajalah akhirnya diikuti, gak menutup kemungkinan toh dengan mahalnya segala macam harga pada saat ini? Bukan suudzon, tapi meneliti. Karena aku pengen sosok pemimpin yang bener-bener baik, jujur dan layak. Bagaimana dengan kalian?

Kenal baik. Nah, ini penting nih. Karena gimana kita tau kalo dia beneran calon pemimpin ideal kalo kita sendiri gak kenal baik? Kan gak mungkin kita datang ke kantor mereka ngajak kenalan. Kalo aku sih salah satu cara biasanya aku rajin googling tentang sosok pemimpin2 yang ada di Indonesia, tentang keluarganya, tentang riwayat pimpinanannya, tentang riwayat kasusnya juga. Karena kadang meskipun udah pernah kena kasus gak menutup kemungkinan dia gak ngulangin, karena yang sebelumnya apa yang didapat dengan cara enggak halal udah tumbuh dalam diri kita so, dia yang manggilin untuk kembali mengulang kasus yang sama. Makanya penting kenalin dulu calonnya, jangan asal pilih yang gak kenal. Bagaimana dengan kalian?

Terlepas dari itu semua, kembali kepada suka atau tidak sih sebenarnya. Aku yakin, pasti banyak dari kalian yang memilih bukan dari hati, tapi karena gak enak sama si pemberi sumbangan hihi. Ngaku deh. Kalo aku, lebih suka milih dari hati, terlepas ada sumbangan atau enggak yang pasti kalo dari hati milihnya, menang atau enggaknya pilihan kita, pasti kita gak bakal emosi apalagi sampai nekat bikin demo diperempatan jalan.

Yang penting bukan suka atau enggaknya, tapi menjalankan amanah masyarakatnya. Gak mesti banyak misi kalo gak sanggup jalanin semuanya, entar kepercayaan masyarakat hilang jadilah punya gelar si pemberi janji manis atau pemberi harapan palsu. Lebih baik sedikit misi yang penting selesai sampai akhir masa kepemimpinannya.

Siapapun yang menang nanti, aku harap mereka menunaikan semua visi misi nya, memenuhi semua janjinya, menyelesaikan tugas dengan baik hingga akhir masa kepemimpinannya, tidak tergiur korupsi dan hak rakyat untuk kepentingan pribadi, dan jangan meninggalkan banyak masalah untuk calon pemimpin yang selanjutnya. Amanahlah, karena kepercayaan itu mahal harganya, ia tidak bisa dibeli dengan uang, sebanyak apapun kita memilikinya.

Bagaimana menurut kalian?

Anak dan Gadget

Source : budak-bangka.blogspot.com

Anak-anak zaman now, sangat sangat jauh sekali perbedaannya dengan anak-anak di zaman old. Bisa kita bandingkan, meskipun gak ada yang bisa memungkiri bahwa setiap manusia gak ada yang suka dibanding-bandingkan, bukan hanya dengan orang lain, dengan waktu pun terkadang mereka gak mau :D. Anak-anak zaman old, ketika berumur, 1, 2, 3, 4 tahun, dan seterusnya belum kenalan sama yang namanya gadget, mainan juga masih suka sama orangtuanya, masih suka sama temen-temennya main mainan tradisional, main pondok-pondokkan, main boneka, main bepe-bepean, main asinan, main masak-masakkan, main layangan, main sepedaan, main balap mobil tamiya, seru banget teriakan zaman old, ada yang nangis karena kalah, karena gak di ajak, atau karena rebutan. Beda ya sama zaman now masih bisa dibilang bayi udah kenal sama gadget, belom juga 5 taun udah khatam main mobil legend *sumpah, aku aja gak tau, gak kenal dan gak mau tau sama game ini*.

Terkadang, aku gak ngerti sama para orangtua muda zaman now, anaknya masih kecil banget dah dikenalin sama gadget, akibatnya ya jadi berdampak buruk buat si anak karena kecanduan. Kita ngasih tau yang bener dibilang, kolot, monoton, gak gaul, gak canggih. Giliran ngumpul anaknya lebih sayang gadget ketimbang orangtuanya baru deh marah-marah, ngomel-ngomel, dibilang durhaka, coba instropeksi dulu, salah siapa ngenalin gadget yang membuat kecanduan kepada anak sejak Dini?

Seperti yang kita tau, zaman paling Indah, paling asik, paling gak ada masalah selain nangis berantem dan sebagainya adalah zaman kanak-kanak. Mestinya masa kanak-kanak itu kita manfaatkan betul-betul, full time begitu, karena masa kanak-kanak hanya sekali dia tidak akan pernah terulang kembali. Kalo masa kanak-kanak lebih banyak anak pegang gadget atau orangtua pegang gadget ketimbang sentuhan fisik satu sama lainnya, lama kelamaan hubungan antara si orangtua dan si anak akan menjauh. Memang ada sih sebagian orangtua yang membatasi penggunaan gadget buat si anak. Tapi, aku rasa sama sekali gak pakai gadget di masa kanak-kanak adalah pilihan terbaik, karena waktumu bersama anak-anakmu lebih berharga daripada gadget.

Gadget itu untuk anak kecil jahat deh. Kenapa? Karena dari sana mereka kenal game akhirnya kecanduan, dan dari sana juga mereka kenal dunia internet dengan segala kejahatannya, contoh paling gampang adalah youtube. Pertama bener sih searchnya lagu anak misal, lama-kelamaan si anak yang super penasaran dan punya rasa ingin tahu yang tinggi buka ini itu, dari yang wajar sampai yang gak wajar, akhirnya si anak waktunya habis dengan si gadget. Anak sekolah jadi begadang, bangun kesiangan, berangkat telat, pelajaran gak masuk, PR gak dikerjain, nilai anjlok, berakhir gak naik kelas atau gak lulus hanya karena satu barang, gadget dan sejuta kecanduannya. See, mau anaknya menjadi seperti itu? Aku sih enggak.

Sebagai orang tua juga, jangan contohin anaknya hal yang kurang baik. Jangan melarang anak ketika kita masih melakukan hal itu, contoh kata orang tua jangan pakai gadget ketika makan, ketika ngumpul keluarga, tapi orangtuanya sendiri melakukan itu. Jangan heran kalo si anak protes “mama sama papa aja pakai gadget kalo lagi ngumpul kok aku gak boleh?” hayoloh, mau jawab apaan? So, contohin hal yang bener dan baik ke anak sejak Dini, karena gini anak itu kan anugrerah, titipan, dan amanah, tanggung jawab orangtua itu besar, kalau si anak sampai tidak baik kelakuannya orangtua juga akan kena dampaknya, mau? Aku sih enggak 😀

Lebih baik, anak-anak waktunya habis bersama orang tuanya, bermain bersama orang tuanya, belajar bersama orang tuanya, bereksperimen bersama orang tuanya, itu lebih baik, lebih membuat kita dekat dengan anak, lebih membuat anak menjadi terbuka dan percaya diri, tentunya membuat anak memiliki kelakuan dan sikap yang lebih baik.

Perlakukan anakmu sesuai dengan usianya, jangan sampai dia dewasa sebelum waktunya atau tetap seperti anak-anak di usianya yang mulai beranjak dewasa.

Paling mentok ya, mulai boleh pakai gadget itu usia SMP, itupun bukan untuk game online, ataupun internet, hanya untuk tugas saja. Usia inipun juga masih harus dibatasi, karena usia-usia ini si anak akan mulai puber, kalo gak didampingin dan diawasi bisa gawat hihi.

Ada yang setuju sama aku gak?

Apa pendapat kalian tentang anak dan gadget?

Sebab Orang Berubah

Assalamualaikum semuanya^^

Apa kabar? Sudah lama neng tidak bersua, dan… Ah… Ternyata sudah akhir tahun saja.. 

Gak pada lupa kan sama neng? Kalo lupa, kenalan lagi aja 😀

———————————————————————–

Kurang lebih dua Bulan gak pernah menulis di blog ini lagi, bukan gak ingin tapi karena kesibukan yang teramat sekali sehingga kadang udah niat ngeblog jadi lupa sering banget terjadi, hihi. 

Hari ini mau bercuap cuap ria aja, kalo ada yang mau ikutan bisa di kolom komentar ye asal jangan buat rusuh ntar tercyduk hehe. Dan, hari ini neng mau ngebahas tentang perubahan. Perubahan sikap manusia.

“Kamu udah gak kayak dulu lagi”

“Kamu bukan seperti yang aku kenal”

“Kamu berubah”

Begitulah cuitan orang lain ketika menyaksikan ada yang berubah terhadap orang di sekitarnya. 

Neng yakin, sebelum kita menemukan fakta bahwa orang lain berubah baik secara sikap maupun kata-kata, sebagai manusia seperti yang lainnya kitapun juga pasti pernah berubah. Ada yang sadar, dan ada juga yang tidak menyadari kalau dirinya berubah. Entah berubah menjadi lebih baik, atau…. Sebaliknya. Terkadang juga, kita sibuk memperhatikan bahkan mengomentari perubahan orang lain, tapi kita lupa untuk merubah diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Kita terlalu asyik nyinyirin gaya hidup maupun sikap orang lain sampai kita lupa bahwa sejatinya dimata orang lain kitapun tidak ada bedanya. Dinyinyirin juga pasti. Digosipin, difitnah, dan lain sebagainya. 

Bahkan, yang parahnya adalah zaman sekarang ini zaman serba salah. Bahagia dinyinyirin. Sedih dinyinyirin. Mendadak kaya dinyinyirin. Jatuh miskin dinyinyirin. Punya pacar dinyinyirin. Nikah dinyinyirin. Makan enak dinyinyirin. Makan cuma satu menu dinyinyirin. Pokoknya serba salah. Semua serba bisa jadi bahan nyinyiran! Syukur kalau yang dinyinyirin orangnya sabar, coba kalo nyinyirin orang yang emosian, apa kagak berantem? Untung kalo yang dinyinyirin orang biasa bahkan tidak terkenal, coba kalo yang dinyinyirin anak presiden, apa kagak masuk penjara? 
Nah, karena adanya nyinyiran ini yang terkadang menjadi sebab kenapa begitu banyak orang berubah. Ada yang berubah jadi lebih baik, ada juga yang berubah menjadi lebih buas. Everybody know batasan diri sih. Harusnya gimana. Memang sebaiknya kita tidak berubah, tapi terkadang karena suatu hal mengharuskan kita untuk berubah. 

Ada banyak faktor sebenernya yang menyebabkan orang lain berubah. Mau tau? Sok dilanjut bacanya ya, kalo gak mau tau ya udah skip aja tulisan ini, hehe. Tapi jangan nyinyirin neng dong ah… 

1. Lingkungan

Faktor pertama, sudah pasti dan sudah tentu adalah hal yang paling memungkinkan untuk berubah. Ketika dia berada di lingkungan yang nyaman, tentu dia akan berubah menjadi orang yang lebih ramah, lebih humble, atau friendly dan lain sebagainya, bahkan bisa juga lingkungan yang nyaman membuat seseorang berubah menjadi sosok yang mudah meremehkan, selalu menganggap enteng apapun yang ada disekitarnya. Jadi, sebenernya lingkungan itu entah nyaman atau tidak pasti membuat kita berubah, entah menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya. Tergantung pribadi masing-masing orang. Tapi, neng pikir setiap orang pasti sudah tau mana yang terbaik untuk dirinya. 

2. Keluarga

Faktor kedua adalah keluarga. Sebanyak-banyaknya orang punya sahabat, setelah q dekatnya dengan sahabat, tetap saja kita tidak bisa mematahkan fakta bahwa orang yang paling dekat dengan kita dalam hubungannya adalah keluarga. Terutama dengan orang tua. Entah hubungannya baik atau sebaliknya. Meskipun terkadang dalam situasi nyata tidak berbaikan, tapi ada yang dinamakan hubungan batin. Terkadang, yang memungkinkan untuk berubah itu bukan karena sedekat apa hubungannya, tapi dari masukan, saran, dan lain sebagainya. Kadang ada yang lebih mengesankan kata-kata daripada sikap ada yang sebaiknya. Bagaimana perubahannya tergantung dari seberapa besar dia respect atau setuju dengan apa yang keluarga katakan. 

3. Teman

Faktor ketiga adalah teman. Kita mungkin punya banyak teman tapi kita gak tau berapa orang yang beneran tulus. Kita mungkin punya banyak teman yang memberikan saran terbaik dan mendengarkan keluhan kita dengan baik, tapi kita gak pernah tau ada berapa orang yang berusaha menjatuhkan kita setelah mengetahui dimana kelemahan kita. Sehingga nggak jarang karena teman orang lain juga banyak yang berubah secara sikap, dan perubahan itu terjadi karena adanya suatu alasan yang menguatkan. Makanya karena temen bisa jadi penolong, bisa juga jadi musuh kalau mau curhat masalah pribadi sebaiknya hati-hati cari orang yang memang sudah dikenal lama dan bisa menjaga rahasiamu. 
4. Pasangan

Faktor keempat adalah pasangan. Entah karena Cinta atau apa kebanyakan orang berubah itu demi atau karena pasangannya. Adanya pasangan juga terkadang membawa hal positif seperti lebih terinspirasi dan hal negatif seperti suka bikin gagal pokus atau kurang konsentrasi. Apapun alasannya kadang banyak orang yang tadinya anak baik-baik karena punya pasangan yang you know mereka merubah sikap si anak baik-baik tadi menjadi anak yang berani menentang orangtua, melawan orangtua dan lain sebagainya. Ya kembali ke diri masing-masing sih sebenernya tujuan punya pasangan itu apa.

———————————————————————-

Intinya sih, orang itu berubah pasti ada sebab. Apapun sebabnya mereka pasti berawal karena suatu alasan. Ya… Sebagai yang punya sifat manusiawi janganlah kan dinyinyirin apapun dan bagaimanapun perubahan orang lain. Entah dia mengubah tujuan atau prinsip hidupnya kita gak tau, entah dia sedang dilanda kesedihan atau apapun kita gak tau, entah dia bahagia atau apapun kita juga gak tau yang sebenernya. Karena sejatinya kadang banyak orang yang menjadi aktor dan aktris hebat yang mampu menyembunyikan bagaimana perasaannya yang sebenarnya. 

Ya… Mau gimanapun juga, kita gak punya hak ikut campur urusan orang lain atau hidupnya. Setiap orang punya gaya, tujuan, dan prinsip hidupnya masing-masing. Setiap orang juga tahu pasti apa yang membuatnya down atau bahagia. Karena hidup sejatinya memang pilihan. Dan itu tergantung pada kita mau memilih jalan kanan atau kiri atau tetap dijalan ini. Mau jadi orang baik atau jahat atau tetap seperti yang saat ini. Biarkan saja, karena yang punya diri pasti lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri, hanya saja kadang masih banyak orang yang buta tuli dengan hal itu. 

Lalu bagaimana dengan kalian? 

Pencari Rasa Nyaman

Hai,, Assalamualaikum semuanya ^^

Maaf ya udah lama gak ada share.. 

Alhamdulillah udah hampir satu bulan neng mengajar. Kalo ditanya betah atau enggak, neng sih bakal jawab betah. 

Di tempat neng bekerja ini, lingkungannya nyaman, rekan2 guru yang lain juga pada baik dan nyaman, makanya inilah yang membuat neng merasa betah di sekolah. 

Kan disini anak-anaknya sekolah cuman setengah hari ya, walaupun begitu bagi kami para gurunya tetap harus mengikuti aturan dari pusat yaitu pulang jam 2 siang. Padahal udah nambah sih waktunya 2 jam lebih lambat dari jam pulang murid, tapi bagi neng tetep aja kurang lama bersama rekan2 yang lain. Alasannya itu tadi, karena rekan dan lingkungannya yang nyaman jadi bikin betah. 

Setiap yang bekerja sudah tentu nyari gajih ya, neng pun juga begitu, penting kan ya demi kesejahteraan hidup kita 😁 ada juga yang mati-matian kerja demi jabatan yang tinggi. Tapi bagi diri pribadi neng, ada yang lebih prioritas. Yaitu rasa nyaman tadi. Percuma kerja dengan gajih yang tinggi tapi punya musuh dan lingkungan kerjanya gak nyaman. Bikin gak betah juga. Tanya sama diri sendiri. Nyaman nggak kita bekerja dilingkungan itu? Nyaman gak sama rekan kerjanya? Ada gak istilah kubu kiri dan kanan? Ada gak rasa senioritas di sana? Itu lah beberapa pertanyaan yang sengaja neng list di awal dapat panggilan kerja ini. Dan, semua pertanyaan dan kekhawatiran itu terjawab sudah. 

Memang sih, kalau kita kerja apalagi jadi anggota baru, kita memang harus rajin nimbrung bareng sesama rekan yang lain, lebih dulu menyapa, lebih dulu mengakrabkan diri, istilah pemalu tuh dibuang jauh-jauh lah, apalagi ketika menjadi guru. Bayangin aja kalo sifat pemalu masih ada di diri kita, gimana coba nasib muridnya? Tapi tetap punya rasa malu loh ya, bukan pemalu, itu adalah dua hal yang berbeda. 

Ada juga orang yang memanfaatkan jabatan tinggi untuk semena-mena. Ada kok. Tapi, alhamdulillah di sini sih enggak. Kepala sekolahnya adalah senior neng waktu Mts, MAN, dan kuliah, cuman beda dua tahun. Dia kepala sekolah, dan neng adalah anggota baru disini. Neng dari dulu emang punya prinsip tentang rasa hormat dan saling menghargai. Walaupun teman sebaya atau teman akrab neng punya jabatan tinggi, dia bos neng anak buah, tetap aja kok neng menghormati, begitu juga dengan guru2 senior disini, mau muda atau tua berhubung punya jabatan tinggi di hormatilah dia. Dan kepala sekolahnya ini, the best banget lah, beliau sering melakukan hal2 kecil yang sopan. Neng diam2 belajar, meski jabatan tinggi tapi usia tidak bisa berdusta. Oke saat bekerja kamu adalah bos, tapi dari segi usia kamu lebih muda, so tetap di hormati dan sopan pada yang lebih tua. Itusih yang neng pelajari dari kepala sekolah. 

Dan fakta lagi, neng paling senang mendampingi kepala atau ketua. Bukan berati neng kepengen diserahin jabatan itu ya. Neng senang menemani dan belajar banyak hal tentang kepemimpinan, tapi kalo untuk disuruh jadi pemimpin neng gak mau. Banyak tanggungannya 😂 neng cuman sedia menjadi sosok pendorong dari belakang saja. Neng tidak ingin terkenal sebagai pemimpin, tapi neng ingin menjadi sosok motivator dan inspirator. 

Terkadang, dalam mencari rasa nyaman itu sendiri. Kita nggak bisa selalu menampilkan sifat “aku” terlebih ketika kita berbicara kepada orang lain. Etika dalam komunikasi kita harus kuasai. Banyak banget manusia-manusia di dunia yang si A ngomong si B ngomong juga, barengan jadi kadang si C salah paham, kalo udah gini siapa yg repot? Semuanya toh? Maka dari itu, meski kita paham diri kita adalah sosok yang cerewet atau bawel, tetap kita harus tau bagaimana menempatkan diri kita, ketika orang lain berbicara maka dengarkan, ketika diminta berpendapat, berpendapatlah senatural mungkin, jangan berpendapat yang menunjukkan kamu lebih ke A ketimbang B, nanti ada yang tersinggung bahaya. Berpendapat yang sesuai dengan hati dan logika kamu aja, jangan juga mendramatisir jauh dari kenyataan. Belajar menghargai ketika orang lain sedang berdiri di depan atau berbicara. Karena pada kodratnya enggak mustahil kok manusia ini menginginkan timbal balik. 

Dalam bekerja ataupun saat kuliah lalu, neng selalu menanamkan prinsip ini “perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan” kalau kita menanamkan prinsip ini dan melakukannya juga, insyaallah rasa nyaman akan selalu kita peroleh. 

Sekian dulu ya, oya ketika kalian bekerja mana yang lebih kalian prioritaskan, rasa nyaman atau gajih? Komen di bawah ya… Bye ^^

Satu Minggu Pertama

Hai hai assalamualaikum semuanya 🙂 maaf udah lama gak ada nulis, karena kesibukan yg luar biasa banget nyampur jadi 1, hehe.

Alhamdulillah, sebelum wisuda neng udah kerja, akhirnya. Neng memilih untuk menjadi tenaga pendidik di salah satu SD di kota neng, yang mana kita semua tau, bahwa anak SD itu masyaallah sekali. Se nakal-nakalnya murid SMK/STM yang pernah neng ajarin waktu PKL masil bisa kalo di nasihatin, masih mau dengerin gurunya kalo belajar, pokoknya masih enak lah di apa-apain selama bukan main fisik. Alhamdulillah nurut. Kalo anak SD? Satu minggu pertama, jangankan satu minggu. Satu jam pelajaran aja berasa banget lelahnya. Masyaallah, kalo anak SMA yang begitu mungkin neng udah makan hati kali ya. Mereka itu susah dinasihatin, dinasihatin iya iya aja tapi habis itu dilakuin lagi semacam masuk telinga kanan keluar telinga kiri, lewat aja nasihatnya. Apalagi kalo anak-anak kelas 6 uhhhh. Pinter banget nyahut, ngelawan, pokoknya sok2an banget. Andaikata ndada undang2 kayak jaman neng sekolah dulu, greget banget pengen noyor murid belagu. Heran banget. Semakin ada undang2 semakin berani anak2 melawan, semakin nda karuan sudah isi murid di sekolah. Makanya gak heran, kalau banyak guru-guru yang keluar masuk dari sekolah, bukan karena rekannya yg nyuekin atau apa tapi karena muridnya yg gak sanggup di hadapin, bikin emosi lahir batin darah tinggi juga. 

Selain itu, bagi neng, ngajar SD itu nda sebebas ngajar anak SMA. Misalnya materi. SD cuman bisa sedikit, sehari dapat 1 halaman itu alhamdulillah banget. Belum nulis udah cape, padahal bukunya itu antara kata2 sama gambar banyak gambarnya. Anak-anak sekarang bener2 deh. Kalo anak SMA bisa diajarin sehari satu materi selesai, bisa dikasih tugas, bahasa yg diomongin juga bukan lagi bahasa yg hanya dipahami anak kecil. 

Kadang, neng ngajar itu ada takutnya. Takut kalo anak2 gak paham. Masalahnya anak kecil, gak bisa diajak becanda kayak anak SMA, mereka jujur banget bikin kagok iya, kehabisan kata2 juga iya. Pokoknya masyaallah banget. 

Kemarin aja, kepala sekolah sampe nangis gara2 anak kelas 6 udah berani pake kekerasan fisik, udah berkali2 mukul ade kelasnya dan itu dikepala. Pokoknya ampun banget deh. Bingung juga neng sama anak2 SD itu. Mungkin gak semuanya kayak gitu, ada yg nurut kok. Tapi gak banyak juga, karena kepengaruh. 

Pokoknya neng harus coba dulu lah sampe sebulan kalau semakin parah, neng akan kembali jadi guru SMK saja, mungkin memang kodratnya disana. 

Lain cerita kalau sama rekan guru yg lain, gurunya mah asik semua, pada baik, senengnya becandaan, asik lah kalau nimbrung, apalagi neng jadi yg termuda behhh makin lagi asiknya di kerjain wkwk. kalau sama gurunya malah bikin betah. Gak pengen kabur lah dari sekolah gitu. 

Intinya sih, ngajar tingkat sekolah apapun butuh sih yang namanya kesabaran. Apalagi yang paling penting bagi anak2 ltu adalah tata krama. Neng dulu, waktu sekolah guru itu bawa penggaris panjang kemana2 bawa buku catatan pelanggaran kemana2, buat ngajarin tata krama sama disiplin. Coba aja sekarang begitu apa nda kena undang2? 

Setelah menjalani real menjadi guru selama seminggu ini, banyak banget yg udah di alamin, apalagi neng statusnya wali kelas. Anak didik neng karakternya macem2. Kalau dinasihatin gak didengerin, kadang sampai kita teriak di bilanginnya pemarahan. No. Itu gak akan terjadi kalau muridnya nurut. Belajar semaunya, nulis semaunya. Pokoknya mau mau mereka lah. Ngadu sama guru juga paling cuman dibilangin sabar ya…. Untuk yang seperti ini yang dibutuhkan itu bukan kata simpati “sabar ya” tapi gimana caranya ini anak2 biar pada nurut *emosi*.

Neng pikir ngajar anak SD itu bakal mudah. Mudah sih iya, materi pelajarannya yg mudah. Anak2nya? Mudah dari mana…. Masih mudahan ngajarin anak SMA biar kata pake kurikulum 2013 kek 2017 kek rela aja neng ini dari pagi sampai sore ngurusin mereka, bisa di hukum kecil2an (yang jelas bukan fisik) *neng kangen sama murid SMK, pengen balik ke sana aja nanti*

Udah ah, kalo uneg2 ditulis semua bisa panjang banget tulisan ini. Banyak banget yang bisa dikeluhkan perihal anak SD ini. Sabar yang sabar banget itu bukan tipe neng kayaknya. Tapi masih mau mencoba sampai sebulan dulu lah, kalo tahan lanjut, kalo engga ya out, simpel kan? 

Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Assalamualaikum semuanya 😉 

Apa kabar? Lumayan juga lama kagak curhat dimari 😀 maklum sibuk shay demi sarjana wkwk.. 

Pulang Malu Tak Pulang Rindu. Ini kalimat cocok banget buat kamu, kamu, kamu yang nggak tinggal sama orangtua kandungnya. Sekolah, kuliah, kerja ditempat yang berbeda dengan tempat tinggal orangtua, ada yang beda rumah, beda kota, beda provinsi, beda pulau, bahkan beda Negara. Sudah itu, karena keadaan tertentu yang menuntut ke-profesionalan sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab (?) membuat diri kita menjadi jarang pulang. Ada yang pulangnya seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, 5 atau 10 tahun sekali, misalnya. kalau neng jujur ya, pulang ke rumah emak bapak setaun sekali itu juga Bulan Ramadhan doang 😀 maafin ye mak ❤.

Kalau ditanya gimana rasanya tinggal jauh dari orangtua. Macem-macem sih rasanya kayak permen nano-nano, manis asem asin rame rasanya *iklan* 😀 senengnya sih mungkin karena gak ada yang ngatur ini itu ngatur sana sini 😀 gak enaknya adalah kalau sakit gak ada yang manjain, kalau laper gak ada yang masakkin makanan, kalau cucian numpuk gak ada yang cuciin, kalau lelah gak ada yang mijitin, kalau sedih gak ada yang pelukin, huhu syedih deh. 

Kalau ditanya tentang rindu. Sangat sangat sangat rindu. Bagi sebagian orang yang susah pisah sama orangtua, jangankan setahun sekali, sehari gak ketemu aja kayaknya ada yang hilang gitu 😀 ya gak sih? Ada yang pernah ngerasain? 

Pulang malu. 

Nah, bagi orang yang misalnya sekolah, kuliah, atau kerja ditempat yang jauh istilahnya adalah perantauan, kalau belum dapet hasil yang jelas, karena mungkin udah berjanji sukses sama keluarganya, pasti kalau mau pulang atau putus ditengah jalan malu banget. Iyadong, secara tujuan utama merantau kan untuk mengubah nasip kehidupan menjadi lebih baik kedepannya. Misalnya kayak neng, dari kelas 1 SD sampai sekarang udah mau Sarjana, neng bertekad cari ilmu sebanyaknya karena neng bercita-cita bisa bangun sekolah di daerah neng yang jarak dari rumah ke sekolah itu masih 10 km. Lumayan jauh. Jadi kalau pulang tanpa membawa kesuksesan bakal malu. So sepahit pahitnya, sesusah susahnya dijalanin aja. Karena segala sesuatunya gak ada yang instan, biar kata mie juga pasti kudu di olah dulu kan baru bisa dimakan, begitu juga dengan perjuangan. Kuncinya emang harus sabar, contoh aja ulet yang dibenci sabar melalui segala macam rintangannya, dia lewatin dan hadepin sampai akhirnya dia berubah menjadi kupu2 cantik yang dirindukan oleh banyak orang. 
Tak Pulang Rindu. 

Nah, kalau gak pulang bakal rindu. Rindu emak bapak, sama kampung halaman. Kesederhanaan dan quality time berharga bareng keluarga. Banyak hal yang mereka lewatin tanpa kita. Meskipun selalu dikabarin lewat telpon beda banget lah rasanya sama ikut merasakan secara langsung. 

Pulang Malu tak Pulang Rindu. 

Selalu aja jadi kegalauan terbesar buat orang2 yang sedang merantau. Apalagi namanya manusia gampang kegoda. kadang denger rumpian tetangga aja langsung kabur pulang 😀 tapi shay, namanya juga berjuang, gak ada yang mudah. Segala rintangan yang ada ya dilewatin aja atu-atu, perlahan tapi pasti semuanya bikin kamu lebih kuat dalam menjalani hidup. Intinya tetap sadar aja sih, siapa diri kita. Tujuan kita apa. Yang penting kita serius dan terus berusaha. Jangan menyerah ditengah jalan. Semangat buat yang sedang merantau. 
Oke sekian ocehan kurang bermutu (?) kali ini. Adakah kalian yang sedang merantau? Mungkin bisa share pengalamannya dikolom komentar 😊 kira-kira apa ada tips2 tertentu nih bagi yang sedang merantau?