Tentang Pertanyaan yang dimulai dengan ‘Kapan’? 

Assalamualaikum, halo semuanya, sehat? 

Diusia neng dan kawan-kawan yang sudah berada di awal angka ‘dua’ ini, banyak banget tetangga, kawan seperjuangan, guru-guru, bahkan anggota keluarga sendiri, yang mulai ramai dan heboh membanjiri satu pertanyaan yang dilontarkan ribuan kali, yang menurut neng “kenapa sih manusia-manusia ini kepo sekali?” 😀

Pertanyaan apakah itu? 

Satu pertanyaan, yang sebenernya wajar sih untuk dipertanyakan jika berpatokan pada usia. Satu pertanyaan yang efeknya dapat membuat galau dan buyar konsentrasi yang efeknya jadi patah semangat. Satu pertanyaan yang bikin males keluar rumah kalau ujung-ujungnya setiap ketemu orang lain selalu mempertanyakan hal itu. 

Apakah itu? Pertanyaan yang ternyebelin dan mengganggu menurut neng. 

Pertanyaan yang selalu dimulai dengan kata ‘kapan’. 

Pertanyaan seputar ketekunan dan kerajinan seperti Kapan lulus? Kapan kerja? 

Dan pertanyaan seputar takdir seperti Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan nambah anak? 

Please pak bu 😀

Kalau pertanyaan seputar ketekunan dan kerajinan, okelah ya masih bisa dijawab. Tapi, kalau pertanyaan seputar takdir, gimana jawabnya coba? Kan takdir manusia udah ditentuin sama Sang Pencipta, manusia enggak tau apa-apa dia hanya menjalani sambil mencari lalu menemukannya saja. 

Belakangan ini, neng bukan diburu dengan pertanyaan “kapan lulus” melainkan “kapan nikah?” oh my god. Neng elus-elus dada aja kali yak? Situ nanya ama neng, neng nanya sama siapa? Neng pun gak tau kapan, jadi neng selalu ngejawab “insyaallah secepatnya”.

Kadang neng ditengah-tengah ngerjain skripsi pun, kan sekarang ini lagi musim nikah yak, jadi tiap minggu itu ada aja undangan yang nyebar. Sama anggota keluarga, ditanya mulu kapan nikah. Neng jadi kepikiran, trus jadi tertunda skripsi gara-gara merenung soal resepsi. 

Beberapa hari lalu, booming tuh di media sosial hastag baper dunia akhirat dan hari patah hati nasional 😀 neng sih ngeresponnya senyum doang. Yang hastag baper dunia akhirat ini loh 😀 pupus lagi satu harapan neng wkwk. 

Neng kan pernah cerita disini ideal type suami neng, salah satunya kan yang hafal al-qur’an 😀 jadi neng tuh kalo di instagram, fb, dan line kadang suka kepo sama pemuda dan pemudi yang hafal al-qur’an dan sholeh sholehah banget. Cantik dan ganteng. Iri. Mana pada jomblo semua. Jomblo sampai halal prinsipnya. Jadi, neng iseng-iseng list deh, santrinya ustadz yusuf mansur, alvin faiz putranya ustadz arifin Ilham, aa natta Reza yang penyanyi nasyid ganteng itu 😀 muzammil hasballah si Imam masjid itu 😀 ada juga hamas syahid, anandito Dwi, banyak deh 😀 separonya udah sold out aja 😀 ini baru namanya patah hati kayaknya 😀 tapi selama bang mamas dan bang dito belum ke pelaminan, masih ada harapan wkwk *apaan sih*

Kembali ke pembahasan 😀 belom lagi kalo pergi ke kondangan, beuh sudahlah beribu pertanyaan “kapan nyusul” pun terlontar, iyasih ngomongnya emang gak serius banget sambil bercanda, tapi kan tetep aja bikin kepikiran, kagak tau apa yang ditanyain hatinya baper-an banget. Sedih sih ya. Ditodong pertanyaan mulu haha. 

So, neng tuh pengen deh protes untuk yang sering menghujani kita dengan pertanyaan itu, biasa sih ya yang paling sering nanyain ini para ibu-ibu 😀 ibu-ibu kenapa sih kepengen kita cepet bikin hajatan spesial itu? 😀 neng aja belum siap. 

Selain terganggu, neng itu sebenernya gak mau tergesa-gesa dalam hal “pernikahan”. Menurut neng, pernikahan itu gak bisa main-main, pernikahan juga bukan perlombaan yang mengharuskan siapa lebih dulu menikah dialah pemenangnya, yang dipikirkan bukan ketika hari pernikahannya, melainkan bagaimana setelah menikah. Banyak pertimbangan, siap atau tidak? Mampu atau tidak? Sanggup atau tidak? Bisa atau tidak? Bagaimana ketika ada masalah, bagaimana penyelesaiannya antara kedua orang yang bersangkutan tanpa harus ada campur tangan orangtua, mertua, dan ipar-ipar sekalian. Belum lagi soal kontrol emosi dan bisa menerima apa adanya atau tidak? Banyak banget kan. Karena setiap orang pasti ingin menikah hanya sekali seumur hidupnya. Semuanya juga tentu ingin sukses dalam karier, sukses juga dalam keluarga. 

Untuk neng dan kawan-kawan yang seumuran atau siapapun yang belakangan sangat dituntut dan didesak untuk menikah, jangan terlalu dihiraukan, kalau selalu menghiraukan, kalian akan kehilangan konsentrasi dan semangat. Tenang aja. Kan Sang Pencipta berkata DIA menciptakan setiap makhluk hidup berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan, agar saling mengenal satu sama lain. Jangan khawatir gak punya jodoh, kan sudah ada janji-nya, tugas kita ya mencari dan menunggu… 

Nanti, jika sudah tiba waktunya, semua pasti akan ngecie-cie-in dengan sendirinya 😀 ingat ya, menikah itu bukan soal siapa cepat dia dapat, tapi siapa siap dia yang pantas. 

Dan, jika sudah dirasa tiba waktunya, jangan juga menunda-nunda dengan alasan “mau puasin kerja dulu” “mau puasin jalan-jalan dulu” dan alasan lainnya yg sejenis.. Apalagi yang sudah punya rencana, segerakan, niat baik jangan ditunda-tunda, begitu sih kata ustadz-ustadz, kalau ditunda nanti hilang 😀

Nah teruntuk para orangtua, jangan terlalu sering melontarkan pertanyaan “kapan nikah” kepada anaknya, hanya karena iri melihat teman-temannya yang sudah pada gendong cucu. Anaknya jangan disudutkan dengan menikah, biarkan dia berkarier terlebih dahulu, kalem aja pak bu, jodohnya masih dalam perjalanan hehe 😀

Sebenernya sih, tentang pertanyaan ‘kapan’ ini, akan membuat galau, patah semangat dll tergantung dari bagaimana kita menyikapinya, kalau terlalu dipikirin bisa-bisa terbengkalai semua kewajiban kita. 

Tentang menikah kan masa depan, masa depan yang Indah dan cerah dapat kita rasakan jika kita mengaturnya sedemikian rupa, kira-kira seperti itulah. 

Mungkin temen-temen pernah atau sedang ditodong sama pertanyaan – pertanyaan yang diawali dengan kata “kapan”? Bagaimana kalian menyikapiny, mungkin ada yang berpengaLaman? 

Bye,,